Begitu sulitkah membedakan antara pencitraan dengan penipuan?
Pencitraan itu berangkat dari sesuatu yang ada namun belum tampak sempurna sehingga tekhnik pencitraan hanya berfungsi memoles dan menyempurnakan saja, sedangkan penipuan itu berangkat dari ketiadaan. Tak ada, namun diada-adakan. Blow up media tentang poduksi mobil ESEMKA itu contoh nyata penipuan, bukan pencitraan. Dan inilah penipuan terbesar sepanjang sejarah Indonesia karena korbannya jutaan manusia. Semoga Muri segera bertindak.
Begitu sulitkah membedakan antara ingkar janji dengan berdusta?
Sekian ratus program yang sudah diikrarkan didepan rakyat dan ditunggu jutaan manusia, namun tak direalisasikan itu ingkar janji namanya, bukan dusta.
Tak akan bagi-bagi kursi, tak akan menaikkan harga BBM dan TDL, akan menciptakan 10 juta lapangan kerja, tidak akan impor bahan pangan, akan menjamin kebebasan bersuara dan lain-lain lalu janji-janji tersebut hanya pepesan kosong itu contoh dari ingkar janji bukan dusta.
Jangan gagal faham!
Dusta itu ketidaksesuaian antara ucapan dengan tindakan atau kenyataan. Saat ini tidak ada lagi konflik agraria karena yang ada “ganti untung bukan ganti rugi” dan soal tak ada lagi kebakaran hutan selama empat tahun terakhir, ini sekelumit contoh ucapan dusta, bukan ingkar janji. Namun demikian, baik ingkar janji maupun dusta sama-sama tindakan tidak terpuji yang harus dihindari apalagi oleh seorang pemimpin tertinggi.
Begitu sulitkah membedakan antara kesialan dengan kebodohan?
Sial itu terjatuh dalam perkara yang na’as diluar kemampuan diri kita. Sedangkan kebodohan itu minimnya pengetahuan akibat dari kemalasan memburu pengetahuan itu.
Tertipu itu sial, namun berulang kali tertipu bahkan oleh orang yang sama itu bodoh namanya, bukan lagi sial. Fahami ini agar anda tidak terjerumus dua kali karena itu bukan watak seorang muslim!
Bukankah Baginda Nabi pernah memberikan wejangan bahwa tidak mungkin seorang muslim terjatuh dalam lubang yang sama dua kali.
Jika Anda masukkan jari anda ke dalam lubang lalu ada hewan berbisa menyengat jari anda, itu sial namanya. Tapi jika anda ulangi lagi, itu bodoh namanya.
Semoga di pilpres nanti, pemilih yang beruntung lebih banyak daripada pemilih yang sial dan jikapun ada pemilih yang sial, semoga jumlahnya lebih sedikit daripada pemilih yang bodoh!
Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih
