Wahai engkau yang sedang berseteru!
Wahai pemilik hati yang keras membatu!
Wahai manusia yang sulit berdamai dengan saudara seiman!
Wahai yang menganggap dirinya paling benar!
Jika engkau merasa masih punya alasan untuk tidak mau berdamai dengan saudaramu, kemarilah aku ceritakan padamu kisah Sayidina Ali bin Abi Thalib ra!
Akan aku ceritakan hingga engkau menuduhku sebagai penganut syi’ah karena pujianku kepada beliau dan anak keturunannya. Hampir saja aku mengkultuskannya karena kemuliaan akhlaq dan kebesaran jiwanya. Jika bukan karena ajaran-ajaran agama, pastilah itu sudah aku mengkultuskannya.
Tahukah engkau bahwa hampir seluruh ulama menyatakan bahwa Sayidina Ali berada di pihak yang benar ketika ia berseteru dengan saudara seimannya, baik dengan Aisyah dalam perang Jamal maupun dengan Muawiyah dalam perang Shiffin.
Kelak ketika Aisyah, Tholhah dan Az Zubair kalah perang, mestinya Sayidina Ali berhak menghukum Aisyah karena telah memimpin pemberontakan (bughot) melawan pemimpin yang sah. Namun itu tidak beliau lakukan. Beliau justru mengantarnya pulang dengan selamat, tanpa cedera sedikitpun. Kelapangan dada dan kebesaran jiwalah yang membuat beliau lebih banyak melihat sisi kebaikan ibunda Aisyah ra.
Aisyah bukanlah orang lain bagi Ali bin Abi Thalib. Aisyah ra adalah ibunda orang beriman, berarti juga ibunda beliau. Aisyah ra adalah istri manusia yang paling beliau cintai dan hormati yang telah menjadi mertua beliau yaitu Rasulullah saw. Aisyah ra adalah putri sahabat terkasih yaitu Abu Bakar ash Shiddiq ra.
Dengan melihat seabrek kelebihan ibunda Aisyah inilah, perang Jamal berakhir indah. Tak ada lawan yang dihinakan.
Toh yang sedang menjadi seteru adalah kawan seperjuangan sejak dahulu.
Yang telah melewati suka dan duka bersama dalam sekian kurun waktu.
Apakah hanya karena ‘nila’ setitik, rusak susu sebelanga? Jika demikian, dimana engkau letakkan akalmu?
Bahkan ketika putri Tholhah lahir, Sayidina Ali pun menamakannya Aisyah sebagai bukti tak ada dendam dan kebencian kepada sosok wanita mulia tersebut.
Sampai disini, aku ingin kembali bertanya kepadamu wahai yang sedang berseteru, apakah posisimu lebih benar dan lebih mulia dari Sayidina Ali ra?
Jika engkau masih saja bersikeras, aku ceritakan kisah yang kedua yang akan semakin menampakkan pribadi Sayidina Ali ra yang berkilau bak mutiara.
Dalam perang Shiffin selain memimpin pemberontakan, Muawiyah bin Abi Sufyan juga telah menebar fitnah bahwa Sayidina Ali lah yang telah membunuh Khalifah ketiga; Ustman bin Affan ra. Namun lihatlah ketika Mushaf Al Qur’an diangkat diatas tombak oleh Amr bin al Ash sebagai isyarat damai, Sayidina Ali bersedia mengutus diplomatnya; Abu Musa al Asy’ary ra.
Tentu banyak spekulasi yang dihembuskan. Sebagian mengatakan karena posisi pasukan Sayidina Ali ra sudah dalam kondisi lemah dan diprediksi kalah, makanya beliau mau berdamai. Inilah tuduhan kaum khawarij yang akhirnya memilih keluar dari barisan beliau dan sepanjang masa selalu melawan penguasa yang sah.
Namun dugaan saya bukan itu, karena Sayidina Ali adalah panglima perang dan ksatria yang tak gentar mati. Hampir setiap medan jihad beliau saksikan. Bahkan saat panglima-panglima terbaik tidak berhasil menjebol benteng Khaibar, dengan izin Allah beliaulah yang berhasil meruntuhkannya.
Adapun Ahlusunnah senantiasa menjaga husnudhan kepada beliau, maka umumnya mereka mengatakan: “Apa keuntungan melanjutkan peperangan ketika korban yang berjatuhan adalah saudara-saudara seiman? Apa yang dicari ketika perang telah merenggut nyawa manusia-manusia yang beliau cintai? Tak penting lagi menyoal siapa yang benar dan siapa yang salah, saat didepan mata telah nyata begitu banyak manusia bersimbah darah”.
Hanya manusia yang haus darah dan kekuasaan yang tak mau berdamai dengan saudara seiman.
Adakah yang bisa menolak perintah Al Qur’an untuk berdamai, sekalipun dengan orang kafir, apatah lagi dengan saudara seiman:
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan jika mereka (orang-orang kafir) cenderung pada perdamaian, maka berdamailah (dengan mereka) dan bertawakkallah kepada Allah. sungguh Dia maha mendengar lagi mengetahui” (QS: Al Anfal: 61)
Saat beliau melihat mayat-mayat bergelimpangan dan korban-korban bertumbangan, maka jiwa beliau bergetar. Maka berdamai dengan Muawiyah adalah pilihan terbaik dan paling maslahat.
Isyarat inilah yang kemudian ditangkap oleh putra beliau, Sayidina Hasan ra yang bahkan dengan kebesaran jiwanya merelakan kekuasaan kepada Muawiyah.
Jika ia bukan pemimpin yang lemah, tidak mungkin beliau mengalah.
Ini tuduhan sebagian orang kepada beliau. Apakah mengalah selalu identik dengan kekalahan?
Justru berkat ijtihad beliau inilah, tahun 91 H ditetapkan para ulama sebagai ‘Am al Jama’ah (tahun persatuan).
Kelak di masa Bani Umayyah, Islam mencapai masa kejayaan. Ketika itulah, sejarah mencatat bahwa saham terbesar kejayaan Islam di masa Bani Umayyah adalah milik Sayidina Ali dan Sayidina Hasan, putra beliau.
Maka ketahuilah, wahai engkau yang sedang berseteru!
Saat perang Shiffin usai, manusia terbagi tiga golongan; khawarij yang keluar barisan, ahlussunah yang mendukung Ali ra dengan tulus dan syi’ah yang mencari muka demi remah-remah kekuasaan.
Dan aku menduga tiga kelompok manusia inipun telah ada dalam lingkaran perseteruanmu dengan sudaramu sendiri. Engkau harus lebih waspada akan tipu daya Syi’ah daripada perlawanan Khawarij.
Namun yang pasti, dengan melihat sisi kebaikan orang lain yang saat ini menjadi seterumu dan dengan melihat betapa telah banyak korban berjatuhan karena perseteruanmu, semoga terbuka hatimu untuk berdamai.
“Dan berdamai itu lebih baik” demikian firman Allah dalam kitab suciNya.
Maukah engkau berdamai, saudaraku?
Suhari Abu Fatih
Pelayan Ma’had Alfatih

