Bukan untuk membandingkan antara dua sahabat mulia karena saya dan anda bukan siapa-siapa dibanding mereka berdua. Keduanya adalah para pejuang (mujahid) sekaligus mujtahid (ahli ijtihad).
Sayiduna Ali adalah lelaki pertama yang beriman kepada Rasulullah saw dari kalangan anak-anak. Lelaki yang gagah perkasa dan menjadikan nyawanya sebagai tebusan bagi keselamatan jiwa Nabi saw di malam hijrah. Lelaki yang diridhai Rasulullah saw untuk memboyong anak gadisnya (Fathimah ra) lalu menjadi menantu yang dicintai beliau. Lelaki yang begitu patriotik dalam kancah perang Khaibar yang begitu mendebarkan hingga dengan izin Allah benteng itu takluk ditangannya.
Adapun Mu’awiyah meski termasuk belakangan dalam memeluk Islam (saat fathu Makkah) bukanlah orang sembarangan. Ia penulis wahyu dan juru tulisnya Rasulullah. Meski prestasinya tidak sebanyak sayyiduna Ali, namun saat berkonflik dengan Ali ra Mu’awiyah terlihat lebih unggul.
Walaupun hampir semua ulama menyatakan bahwa kebenaran pada pihak sayyidina Ali ra, namun fakta sejarah dan kondisi sosial lebih berpihak kepada mu’awiyah bin Abi Sufyan ra. Ia seorang adiministrator yang ulung. Ahli strategi perang yang luar biasa. Ia lebih memahami ruh ijtima’ rakyat Iraq dan Syam (Yordania, Palestina, Damaskus dan Hims) sehingga para sosiolog menobatkan beliau sebagai salah satu pakar sosiologi terbaik. Ilmu terakhir inilah yang menjadikan posisinya lebih terlihat diterima oleh rakyat Iraq dan Syam daripada Sang Khalifah yang sah (Ali bin Abu Thalib).
Disamping karena ia telah melayani rakyat dua negeri ini sejak masa Sayidina Umar ra. dan Sayidina Ustman ra sehingga ikatan emosional rakyat kepada beliau jauh lebih kuat daripada kepada sayidina Ali. Rakyat lebih mengenal rekam jejak Mu’awiyah daripada Sang Khalifah.
Hinga seorang Gustav Lebon berkata: “Sungguh, wajib bagi para pemimpin jama’ah mengetahui ruh jamaah (spirit sosial) rakyat yang dipimpinnya, terutama yang tinggal jauh darinya agar ia bisa mengendalikan dan mempengaruhi mereka. Jika tidak, maka kepemimpinannya akan sia-sia. Inilah rahasia yang dimiliki oleh Napoleon. Ia sangat mengerti ruh dan emosi rakyat perancis sehingga pengaruhnya sangat kuat dihati rakyatnya dan kepemimpinannya sangat sukses dan itu berlangsung sangat lama”.
Selain itu, Muawiyah juga sangat lihai memainkan isu terbunuhnya sayidina Ustman. Demikian komentar Abdul Wahhab al Bakhar dalam “Al Khulafa’ ar Rasyidun”. Ia menghasung rakyat untuk menuntut darah Ustman yang terbunuh secara dzalim dan semena-mena. Bahkan ia sampai pada kesimpulan bahwa memerangi Ali ra adalah sebuah kewajiban. Dan kesimpulan ini di amini oleh para pengikutnya. Inilah ikatan emosional yang mampu mengikat kesetiaan pengikut Mu’awiyah, hingga sahabat selevel Amr bin Ash pun turut bergabung dalam barisannya.
Bahkan kelak karena kelihaianya dalam diplomasi Amr bin Ash berhasil memaksa Abu Musa al Asy’ari untuk duduk satu meja dalam peristiwa tahkim. Nanti kita lanjutkan, insyaAllah.
Pelajaran;
Legitimasi anda sebagai pemimpin yang sah harus anda imbangi dengan seperangkat pengetahuan tentang ikatan-ikatan emosi sosial agar anda memiliki pengaruh yang kuat dihati rakyat.
Jika ini tidak anda penuhi, maka tunggu saja, akan ada pemimpin yang baru siap menggantikan anda!
Pelayan Ma’had al fatih Klaten
Suhari AF

