BENCANA SEBENARNYA

Kadang bencana datang sebagai peringatan (QS: Al Isra’: 59). Kadang ia datang sebagai adzab yang meluluhlantakkan apa saja dan menimpa siapa saja yang berada dihadapannya, tanpa pandang bulu dan tak pilih kasih sama sekali (QS: Al Anfal: 25). Kadang ia juga datang sebagai bentuk ujian kesabaran dan penegasan akan hinanya kesombongan (QS: Al Hadid: 22-23).

Tentang hikmah dibalik bencana, kita hanya bisa menerka-nerka tanpa bisa memastikan karena itu urusan Allah, tuhan semesta alam yang kehendakNya tak mungkin ditolak dan qudratNya tak mungkin dielak.
Hikmah-hikmah itu hanya bisa dibaca oleh mereka yang bening mata bathinnya dan jernih akal pikirnya.
Hikmah dan ibrah dari sebuah bencana bisa ditelusuri sebelum dan setelah kejadian.
Dengan merenungkan dan mengevaluasi kembali apa yang kita perbuat sebelum Allah swt menimpakan bencana, akan memudahkan kita menarik hikmah di balik bencana tersebut.
Begitu juga sebaliknya, dengan melihat sikap dan respon kita pasca bencana akan makin menegaskan; apakah bencana yang datang itu ujian, teguran dan peringatan atau adzab yang ditimpakan?

Kadang bencana yang datang itu hanya sekedar untuk menunjukkan kuasaNya atas alam semesta hingga hamba-hamba yang bening hatinya bergetar tak berdaya dan bersimpuh dihadapan jabarutNya seraya melantunkan istighfar Yunus bin Matta yang telah beribu tahun usianya; *“Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzalimin, tiada tuhan selain engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang dzalim”*.

Kadang juga, bencana yang terjadi di muka bumi itu hanya sebatas membawa pesan ketundukan dan kepatuhan alam kepada perintah tuhanNya tanpa reserve.
Seolah-olah bumi hendak mengejek manusia yang selama ini tinggal dihamparannya namun menolak tunduk kepada tuhannya. *“Dan manusia adalah makhluk yang paling sering membantah (tuhannya)* (QS: Al Kahfi: 54).

Dan kadang pula, bencana itu datang hanya untuk memilah dan memilih siapa diantara hamba-hambaNya yang luhur budi dan akhlaqnya? Siapa diantara mereka yang teguh sabar menghadapi ujianNya? Maka kita akan temukan perbedaan sikap warga di masing-masing daerah bencana, yang satu dengan yang lain berbeda-beda.
Dan yakinlah bahwa agama dan para tokohnya memiliki pengaruh yang luar biasa dalam membentuk karakter masyarakat. Sebuah sumbangsih peradaban yang tak ternilai harganya.
Di Aceh, Padang, Jogja, Klaten, NTB, dan daerah lain yang pernah tertimpa musibah kita temukan isak tangis yang menyayat hati, bahkan mungkin ada ratapan namun tidak akan kita temukan penjarahan. Sungguh terjadinya penjarahan itu sangat memilukan, namun peryataan para pejabat yang diduga memicu terjadinya penjarahan jauh lebih memalukan.

Jika ternyata penjarahan itu dilakukan oleh oknum yang sengaja memanfaatkan situasi, maka datangnya bencana akan membuka mata kita semua akan kualitas pemimpin kita. Bagaimana mereka merespon kondisi darurat ini? Bagaimana manajemen mereka disaat krisis terjadi? Apa kalimat yang keluar dari mulut mereka saat seperti ini? Adakah ajakan dan seruan nasional untuk bersabar, beristighfar dan melakukan taubatan nasuha? Disitulah kita bisa melihat grade kepemimpinan dan warna spiritualitas mereka.

Dan jika sekian kali bencana menimpa, kita masih enggan tunduk kepadaNya dengan mengikuti semua undang-undangNya, maka ketahuilah; itulah *sebenarnya bencana*.

Sungguh, terbenamnya Qorun dalam kecongkakan akibat kekayaan yang dilimpahkan kepadanya adalah bencana yang sesungguhnya, sebelum jasadnya dibenamkan ke dalam perut bumi beserta seluruh aset miliknya.
Dan demi Allah, tenggelamnya Fir’aun dalam angkara murka dan kesombongan karena kekuasaan yang sedang ia genggam adalah sebenar-benarnya bencana sebelum jasadnya ditenggelamkan di Laut Merah bersama bala tentara kebanggaannya.

Maka ambillah pelajaran wahai kaum yang berakal!

Belangwetan, 3 oktober 2018
Suhari Abu Fatih
Pelayan *Ma’had AlFatih* Klaten

Tinggalkan Komentar