Seorang ibu tergopoh kembali ke ruang kelas tempat ia baru saja mengambil rapor anaknya. Wajahnya pias dan matanya sedikit mendelik tanda tak percaya. Nafasnya naik turun tidak teratur. Setelah ia berhasil menguasai dirinya, barulah meluncur pertanyaan dari lidahnya; “Bu guru, kok nilai anak saya menurun ya. Apa anak saya tidak bisa mengikuti pelajaran atau materinya yang memang berat atau gurunya yang kurang bisa menjelaskan?”
Wali kelas yang ditanya, balik bertanya; “Memang turun berapa bu?” ibu itu menjawab; “0,5”. Kemudian terjadilah dialog antara orang tua tersebut dengan pihak sekolah yang diwakili oleh wali kelas menyoal seputar penurunan nilai 0,5 tersebut dengan kesimpulan akhir; orang tua tersebut akan memasukan anaknya ke lembaga bimbel paling bonafid di kota itu.
Di Gresik beberapa waktu lalu. Seorang guru IPS menegur siswanya karena merokok di ruang kelas. Siswa SMP, mungkin sudah baligh namun belum dewasa. Padahal anak yang sudah baligh itu mestinya juga sudah dewasa karena itulah definisi baligh yang sebenarnya. Anak itu tidak terima, lalu mencengkeram krah baju gurunya dan menantang duel ala Gladiator. Gurunya enggan meladeni. Ia lebih memilih bersabar. Apa untungnya meladeni anak ingusan, apalagi anak didiknya sendiri. “Menang ora kondang, tapi nek kalah wirang” kata orang jawa. Anak ingusan itu terus bersikap sok jagoan, namun Sang Guru tetap tak bergeming. Videonya viral, namun tenggelam karena hingar bingar pilpres dan pil-pil yang lain. Memantik keprihatinan namun sesaat. Lalu hilang tanpa catatan.
Kejadian serupa bahkan lebih dahsyat pernah terjadi di sebuah sekolah berlabel agama di kota saya. Di sekolah ini, muridnya lebih agresif dan benar-benar memukuli gurunya. Gurunya menghindar dan membela diri, namun tetap dipukuli. Akhirnya kesabarannya jebol, ia layangkan tinju ‘mike tyson’nya hingga anak itu terjerembab dan lebam wajahnya. Bedanya Cuma, tidak direkam lalu diviralkan. Akhirnya orang tua anak ini naik pitam. Ia datang ke sekolah dan mengancam mau mempolisikan guru itu. Suara dan kemarahannya meledak tak kenal tata krama. Di depan pimpinan sekolah dan di depan anaknya sehingga anaknya makin membusungkan dada. Anehnya, oleh pimpinan yayasan anak tersebut hanya diberi sanksi ringan dan gurunya malah dikeluarkan. Ajib.
APA INTI PENDIDIKAN?
Mari kita diskusi; apa inti dari semua proses pendidikan? Apa bekal yang mestinya kita berikan pada anak-anak kita? Benarkah kompetensi atau apakah nilai tinggi saat ia sekolah benar-benar menjadi sebab kesuksesannya di masa depan?
Sedikitnya ada tiga hal yang harus kita bekalkan pada anak-anak kita agar ia menjadi pribadi unggul; akhlaq, logika dan kompetensi.
Saya buatkan ilustrasi sederhana agar lebih mudah difahami. Sekarang lihatlah driver ojek online yang menjamur di kota-kota besar bahkan sudah merambah ke perkampungan dewasa ini. Driver itu memiliki kompetensi mengendarai kendaraan. Dia punya keahlian itu, namun pencipta aplikasi ojek online lebih banyak gajinya daripada sekian ribu driver sekalipun karena pencipta aplikasi bekerja dengan logikanya, bukan sekedar kompetensi.
Hal serupa juga berlaku di perusahaan-perusahaan besar semisal pabrik mobil dan motor. Buruh pabrik memiliki kompetensi dan keahlian tertentu sehingga ia mampu melakukan suatu unit pekerjaan, namun terbatas cakupan kerjanya. Hanya di bagian tertentu sehingga kecil gajinya. Bos dan pemilik perusahaan tentu jauh lebih besar gajinya meski kerjanya lebih ringan karena mereka bekerja menggunakan otaknya, bukan ototnya.
Namun itu semua tidak akan ada artinya tanpa akhlaq dan integritas yang baik.
Banyak perusahaan raksasa bertumbangan hanya karena ulah segelintir elitnya. Disinilah kita mengenal tiga macam istilah dalam dunia kerja; kerja keras modalnya otot, kerja cerdas modalnya otak dan kerja ikhlas modalnya hati yang bersih.
Mestinya saat mengambil rapor anaknya, orang tua bertanya bagaimana akhlaq anaknya kepada gurunya? Bagimana tutur katanya saat bergaul dengan teman-temannya? Bagaimana kejujuran anaknya saat seharian di sekolah? Bagaimana shalatnya saat di sekolah? Bagaimana tanggung jawabnya saat diberi tugas oleh gurunya? Dan seterusnya.
Lalu ia berusaha menegakkan pilar-pilar akhlaq itu di rumahnya secara konsisten. Karena itulah inti pendidikan. Bukankah Baginda Nabi saw bersabda: “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”.
Benar sekali kata Nabi, beliau ‘hanya menyempurnakan’ karena pada dasarnya dalam diri setiap anak sudah tertanam akhlaq-akhlaq mulia. Tugas guru dan orang tua hanya menjaga dan menyempurnakan saja. Itulah mengapa kata akhlaq yang merupakan jama’ dari kata khuluq satu akar kata dengan makhluq dan khaliq.
Maka jika ada sekolah berusaha menyemangati muridnya agar bersungguh-sungguh menyongsong UN dengan membuat spanduk bertuliskan “JIHAD UN” mestinya juga ada spanduk yang dipasang sejak awal tahun “JIHADUNAFSI” jihad melawan hawa nafsu atau “SEKOLAH INI ADALAH MEDAN JIHAD UNTUK MEMBINA GENERASI BERAKHLAQ MULIA”.
Namun bukan sebatas slogan dan tulisan tapi diwujudkan dalam program dan kegiatan yang betul-betul memprioritaskan akhlaq diatas logika dan kompetensi.
Jangan sampai sekolah juga gagal faham, sehingga tidak mengerti skala prioritas dalam abjadiah pendidikan ini.
Wallahu a’lam.
Suhari Abu Fatih
Pelayan Ma’had Al fatih Klaten

