Shalih bin Ahmad bin Hambal pernah berkata:
Ayahku (Ahmad bin Hambal) pernah bertekad untuk pergi ke Makkah. Ia ditemani oleh sahabatnya, Yahya bin Ma’in.
Ayahku berkata: “Kita akan menunaikan haji lalu melanjutkan perjalanan ke Shan’a untuk menimba ilmu dari Syaikh Abdurrozzaq”.
Beliau melanjutkan kisahnya: “Lalu kami berangkat hingga tiba di Makkah. Tetiba saat thowaf kami bertemu Abdurrozzaq. Yahya-lah mengenalinya. Lalu kami selesai kan thowaf dan menemui Abdurrozzaq”.
Lalu Yahya mengucapkan salam kepada beliau dan berkata: “Ini adalah saudaramu, Ahmad bin Hambal”
Kemudian Abdurrozzaq berkata: “Semoga Allah menghidupkan hatinya. Sungguh telah sampai kepadaku berita tentang ujian-ujian berat yang dialaminya. Semoga Allah menguatkannya”.
Saat Abdurrozzaq bergegas meninggalkan lokasi, Yahya berkata: “Kenapa kita tidak menimba ilmu dari beliau disini saja?”
Ahmad bin Hambal menolak dan berkata: “Kenapa saya harus merubah niat saya untuk sowan kepada beliau di Shan’a?”. [Uluwwul himmah, Muhammad Ahmad Ismail Al Muqoddam, Daar El Aqidah, hal: 37]
Inilah akhlaq sekaligus tekad (azimah) para penuntut ilmu.
Akhlaq, karena semestinya para pelajar lah yang berlelah-lelah mendatangi guru. Bukan sebaliknya, guru yang diundang ke rumah murid guna menyampaikan ilmu. Bahkan sebagian orang tanpa risih menyuruh guru untuk datang sendiri tanpa dijemput.
Guru ibarat mata air dalam sebuah sumur. Sedangkan para penuntut ilmu adalah timba yang hendak menciduk air dari sumur tersebut. Tidak pernah kita temukan sumur bergerak mendatangi timba kecuali di zaman keterbalikan saat ini.
Kisah ini juga pelajaran tentang tekad atau azimah. Para murid yang kelak tertakdir menjadi ulama-ulama besar, umumnya adalah para pemilik tekad yang kokoh.
Jika mereka telah bertekad, pantang mundur kebelakang.
Murid adalah ism fa’il kata “aroda, yuridu, iraadah” yang maknanya orang yang memiliki keinginan alias tekad. Tanpa keinginan kuat untuk belajar siapapun tidak pernah bisa disebut murid.
Secara sastra, kata murid jauh lebih ‘greget’ dibandingkan kata siswa maupun santri sekalipun.
Lihatlah Imam Ahmad bin Hambal. Ia telah berjumpa dengan sang guru (Abdurrozzaq) di Makkah namun tetap bertekad melanjutkan perjalanan ke Yaman (Shan’a).
“Kenapa saya harus merubah niat saya”, kata beliau kepada sahabatnya Yahya bin Ma’in. Watak ini adalah anugerah yang diberikan Allah swt sebelum Allah menganugerahkan ilmu yang begitu luas kepada beliau.
Para ulama di Nusantara ini, umumnya juga adalah shahibul azimah Al qowiyyah (para pemilik tekad yang kuat) dan shohib uluwwil himmah al ‘aliyah (para pemilik obsesi yang tinggi).
Banyak diantara mereka yang bertekad meninggalkan Nusantara dan menjelajah samudera luas untuk belajar ke Makkah Al Mukaromah. Bertemu dengan para Masyayikh yang telah mukim dan membuka majlis di Masjidil Haram semisal Syaikh Nawawi Al Bantani, Syaikh Yusuf Al Makssari, Syaikh Mahfudz Al Tarmasi dan lain-lain.
Mereka pun rela berpisah begitu lama dengan keluarga. Bahkan kehilangan kesempatan berfoya dan bersenang-senang sebagaimana umumnya anak muda. Maka wajarlah kalau mereka menjadi panutan umat dan pelita generasi. Rahimahullah wa ardhohu.
Masih adalah para pemilik tekad itu di zaman ini?
Wallahu a’lam
Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih

