Tak ada yang tahu siapa pemuda yang belum genap dua puluh tahun itu? Yang mereka tahu, dia berasal dari Kabilah al Azd al Qahtani yang telah melahirkan banyak tokoh.
Selain itu, identitasnya majhul dan dhamir_nya _mustatir bahkan mungkin sebagian pasukan menganggapnya la mahalla lahu minal i’rab. Tapi lihatlah sebentar lagi, apa yang akan dia perbuat?
Ia melangkah dengan tenang menuju Panglima Pasukan, Abu Ubaidah bin Al Jarrah.
Saat itu, tengah berkecamuk perang antara kaum muslimin dan tentara Romawi di Yarmuk.
“Wahai Abu Ubaidah, aku ingin mengobati penyakit hatiku dan memerangi musuhku dan musuh Islam. Aku telah wakafkan nyawaku untuk Allah. Apakah Anda mengijinku ikut berperang? Aku berharap mati syahid di medan ini?” suaranya tegas memecah ketegangan suasana.
Kalimat yang meluncur dari lisannya yang tulus sontak membuat bergetar hati Sang Panglima. Abu Ubaidah tak kuasa menahan air matanya.
Haru, bahagia dan bangga melihat pemuda Islam ini mengerti kewajibannya terhadap agama. Maka tak ada satupun alasan untuk melarangnya terjun ke medan jihad.
Belum lima langkah ia berjalan, ia menoleh ke arah Abu Ubaidah lalu berkata:
“Wahai Abu Ubaidah, sungguh aku yakin akan mati syahid dan sebentar lagi akan berjumpa dengan Rasulullah. Adakah yang ingin Anda titipkan untuk aku sampaikan kepada beliau?”.
Kalimat kedua pemuda ini makin membuat deras air mata Abu Ubaidah tertumpah hingga basah kuyup janggut dan pipinya.
“Jika engkau berjumpa Rasulullah, sampaikan salamku dan salam seluruh umat Islam. Katakan kepada beliau, semoga Allah membalas jasa beliau yang telah mengajarkan kami Al Islam dan sungguh apa yang beliau janjikan telah kami dapati”.
Demikian tegas Abu Ubaidah.
Saat itu pasukan Islam yang hanya sekitar 32 ribu orang menghadapi pasukan Romawi yang berjumlah tidak kurang dari setengah juta prajurit.
Pasukan muslim sejak awal pertempuran menjadi bulan-bulanan dan dikepung dari segala penjuru hingga hampir tak ada lagi harapan untuk menang.
Saat itulah, prajurit tanpa nama itu menerobos pasukan laksana singa padang pasir. Satu persatu musuh ia robohkan.
Terikan “Allahu Akbar” yang meluncur keras dari lisannya membuat terperangah pasukan Romawi.
Sepak terjang dan ayunan pedangnya yang lihai sempurna membuat ciut nyali pasukan Romawi yang melihatnya. Ia seperti prajurit profesional, kuat dan cekatan. Sudah empat orang ia binasakan, hingga ketika orang kelima maju menghadapinya, ia berhasil dijatuhkan. Dalam kondisi itulah, prajurit Romawi berhasil memenggal lehernya hingga terpisah dari badannya.
Sepak terjang pemuda majhul inilah yang diyakini para ahli Tarikh telah membalik keadaan dan mengangkat moral pasukan Islam. Dari kondisi hampir putus asa menjadi pulih dan penuh harap. Dari kondisi dikendalikan musuh menjadi mengendalikan.
Pemuda ini tidak pernah diketahui nama dan identitasnya hingga hari ini, namun para sejarawan menyebutnya “Prajurit berani mati”.
#Hikmah&Ibrah
Wahai umat…
Apakah seorang muslim harus menunggu menjadi sepopuler Abu Bakar Ash Shidiq dan tiga khalifah lainnya baru berjuang untuk membela agama?
Apakah hadist yang dihafalkan harus sebanyak Imam Al Bukhari dan Muslim serta imam hadist lainnya baru mendakwahkan agama?
Ataukah ilmu fiqihnya harus seluas Imam Abu Hanifah, Asy sayfi’i, Malik, Ahmad bin Hambal serta para fuqoha yang lain baru mengajarkan Islam?
Apakah Anda menunggu sekuat Khalid bin walid dan secerdik Sa’ad bin Waqqas baru Anda berjihad di jalan Allah?
Apakah nama-nama pasukan muslim yang berjumlah dua ratus ribuan lebih dalam Perang Yamamah yang dipimpin oleh Khalid tercatat namanya dan disebutkan dalam sejarah?
Apakah tiga ribu pasukan Thariq bin Ziyad yang syahid dalam penaklukan semenanjung Eropa tertulis namanya satu persatu?
Apakah sekian ribu pasukan Shalahuddin tercatatkan identitas dan asal daerahnya masing-masing dalam buku Tarikh Islam ?
Dan..
Apakah ribuan santri, pemuda dan rakyat jelata yang terbunuh sebagai syuhada dalam pertempuran paling berdarah di Surabaya 10 November 1945 terekam nama dan identitasnya?
Atau apakah pemuda yang berhasil membunuh Mallaby diketahui namanya? Hingga kini masih majhul.
Dan apakah murid-murid para fuqoha semisal As Syafi’i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad bin Hambal yang begitu besar jasanya menulis dengan telaten setiap pelajaran gurunya dan dibukukan untuk kelak di wariskan kepada generasi setelahnya pernah kita ketahui nama mereka satu persatu?
Dan siapakah yang begitu besar jasanya memindahkan lembar demi lembar dari Penjara Sang Guru, Imam Asy Syahid Sayyid Qutub hingga karyanya yang agung fii dzilaalil Qur’an mampu menjadi literatur tafsir haraki paling masyhur yang dinikmati generasi islam hingga hari ini?
Dan siapakah yang begitu cermat dan sabar mengumpulkan setiap lembar Risalah An Nuur dari lisan Mursyidnya para Sufi, Badi’uzzaman Said Nursi hingga ia bisa direguk manisnya oleh umat setelahnya?
Apakah rombongan Sudagar dari Hadramaut yang datang ke Nusantara, selain membawa barang-barang dagangan juga membawa agama Islam kita ketahui satu persatu nama mereka?
Mereka tidak di catat by name hingga hari ini, namun negeri ini menjadi negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia adalah karena jasa dan perjuangan mereka setelah izin Allah tentunya.
Ketokohan anda tidaklah ditentukan dari popularitas dan ketenaran, namun dengan kontribusi dan peran nyata.
Selamat beramal untuk Islam…
Hadanallahu wa iyyakum
17/02/2017
Suhari Abu Fatih
Pelayan #Ma’hadAlFatih

