Baitul Maqdis, 600 tahun sebelum kelahiran Nabi saw.
Ibnu Abbas, Mujahid dan Muqatil menyebutkan bahwa nama lelaki itu adalah Habib bin Israil An Najjar, seorang pemahat patung.
Sebagian ulama yang lain menyebutnya Habib bin Mury, seorang tukang kayu. Pemuda ini termasuk manusia yang beriman kepada Nabi saw, utusan terakhir meski jarak antara keduanya sekitar enam ratus tahun dan kelak diantara pengikutnya adalah Waraqah bin Naufal yang beriman kepada Rasulullah saw.
Sejak kecil ia terserang lepra, hingga menjauhlah segenap manusia dari hadapannya, namun jangan salah ia termasuk orang yang ‘religius’ dimasanya.
Lebih dari tujuh puluh tahun ia habiskan setiap pagi untuk meminta kepada berhala agar ia menyembuhkan penyakitnya. Jerih dan lirih suaranya meratap nan iba, namun tuhannya ternyata tidak hanya tuli namun juga buta. Jangankan memberi pinta hambanya, bahkan mengusir lalat dari wajahnya saja, ia tak kuasa. Sungguh tuhan palsu yang disembah secara sia-sia.
Hingga lewatlah dihadapannya, para utusan Allah yang mulia. Mereka melihatnya penuh iba. Bagaimana bisa ada manusia menyembah benda mati yang hina, sementara ia dianugerahi akal pikiran yang sempurna.
“Wahai kisanak, maukah aku tunjukkan kepadamu tuhan yang sebenarnya? Yang Maha Kuasa lagi Maha Luas karunianya. Yang mampu menyingkirkan segala luka dan duka. Yang menyembuhkan siapa yang sakit dan mengangkat beban yang menghimpit”. Demikian seru salah seorang rasul yang lewat tersebut.
“Ah, bagaimana mungkin ada tuhan yang begitu hebat? Aku telah meminta kepada tuhan (berhala) ini selama lebih dari tujuh puluh tahun lamanya, namun tak jua ada tanda-tanda bahwa penyakitku ini akan sirna. Bagaimana mungkin, ada tuhan yang mampu menyembuhkan hanya waktu sekejap mata?” tukas Habib hampir tak percaya.
“JIka engkau beriman kepadaNya, Tuhan kami akan mengabulkan segala pintamu dan menyembuhkan penyakitmu serta mencukupi semua kebutuhanmu”.
Demikian bujuk para rasul tersebut hingga luluhlah hati Sang tukang kayu itu.
Tak selang berapa lama dari pernyataan keimannnya, ia mengangkat tangan seraya meminta kepada Tuhan yang sebenarnya agar diangkat segala derita dan dicukupi kebutuhannya, maka ajaib dengan izin Allah, hilang dan sirna penyakit kustanya dan dimudahkan segala pekerjaannya hingga hampir tiap hari ia bisa infakkan sebagian rezekinya.
Demikianlah awal pertemuan Habib dengan para utusan Allah tersebut, hingga ketika ia mendengar bahwa kaumnya hendak membunuh para utusan Allah tersebut, maka dengan langkah tertatih ia menuju kota. Meski langkahnya gontai tak berdaya karena usia yang tak lagi muda, Al Qur’an menyebutnya berlari.
“Dan datanglah dari ujung kota seorang lelaki dengan berlari, (lalu ia menyeru kaumnya), ‘wahai kaumku ikutilah para Rasul itu, ikutilah orang yang tak sedikitpun meminta balasan kepada kalian dan mereka mendapat petunjuk!”. (QS: Yasin:20-21).
Ia nyatakan dengan lantang bahwa ia telah beriman kepada tuhan para utusan tersebut dan dengan sepenuh jiwa ia jelaskan kepada kaumnya bahwa berhala bukanlah tuhan yang pantas disembah dan ia menyatakan bahwa penyembahan berhala adalah kesesatan yang nyata (QS: Yasin; 24). Tak ada sedikitpun rasa gentar ia tegaskan pokok-pokok iman itu kepada kaumnya.
Tatkala ia deklarasikan keimanannya, “sungguh aku telah beriman, maka dengarkanlah aku” (QS: Yasin: 25), kaumnya naik pitam dan ia diserang dengan membabi buta hingga tumbanglah tubuhnya bersimbah darah dan terburai usus-ususnya.
Seolah tak ada jeda, Allah seketika membalasinya dengan syurga;
“Dikatakan kepadanya, ‘masuklah engkau (wahai Habib) kedalam syurga!, (dan tatkala ia telah berada disyurga dengan wajah penuh ceria ia berujar, ‘aduhai alangkah bahagianya jika kaumku mengetahui balasan tuhanku”. (QS: Yasin: 26).
Mesir, 12 Februari 1949
Hampir sama dengan Habib An Najjar, Hasan bin Abdurrahman As Sa’ati yang kemudian lebih populer dengan sebutan Hasan Al Banna hanyalah penyambung risalah para utusan Allah.
Tak ada ajaran baru yang ia bawa. Tak ada syari’at anyar yang ia ajar. Semua prinsip yang ia tuangkan dalam sebuah memoar “Majmu’atur Rasail” hanyalah seutas benang penyambung estafet dakwah. Hanyalah upaya taklid lalu tajdid terhadap ajaran Kanjeng Nabi saw yang mulia. Namun mengapa kehadirannya membuat musuh-musuh Islam gusar? Kenapa buah pikirannya membuat penguasa yang lalim begitu gelisah? Kenapa setiap pidato dan orasinya begitu menggetarkan?
Ya, dialah potret seorang da’i yang sebenarnya yang mengikuti jejak Nabinya. Darah, daging, detak jantung dan hembusan nafasnya ia persembahkan semuanya untuk Islam. Ia tinggalkan kenyamanan sebagai pegawai negara dengan gaji tetapnya demi dakwah dan perjuangan agama. Setiap hari ia susuri jalan-jalan di Mesir hingga lelah tubuh yang ia bawa. Minimal dua puluh kilo meter jaraknnya. Ia datangi warung-warung kopi dan tenda-tenda. Bukan untuk menawarkan bebagai jualan dengan keuntungan nan menggiurkan, namun untuk mengajak manusia kepada Allah azza wa jalla dan membangunkan mereka dari mimpi panjang. Ia ajarkan kepada para ikhwannya islam yang seutuhnya. Islam yang diajarkan oleh Nabi saw tanpa ditambah dan dikurangi. Islam yang meliputi; aqidah, ibadah, akhlaq, ekonomi, militer, ilmu pengetahuan, peradaban social, bahkan juga urusan Negara.
Ia jelaskan dengan rinci setiap tahap perjuangan. Dari membina pribadi hingga menjadi ustadz alam semesta. Bahkan ia juga mengajarkan anggota organisasinya untuk berlama-lama di mihrab, namun tetap giat mengurus dunia. Ia padukan dzikir dengan fikir. Ia ajarkan ikhlas, amal bahkan jihad fi sabilillah. Hingga ketika meletus perang Arab-Israel, ia kirim pasukan terbaik. Dengan izin Allah, pasukan yang ia pimpin mampu membuat kalang kabut Yahudi laknatullah.
Inilah rupanya yang membuat gelisah musuh-musuh Islam. Orang ini amat berbahaya, jika dibiarkan hidup maka umat ini bisa bangkit melawan segala bentuk dominasi asing dan pejajahan. Islam telah sekian lama dijauhkan dari kehidupan nyata, dipinggirkan dan disingkirkan. Bahkan umat telah sekian lama didoktrin bahwa politik adalah wilayah kotor yang tak pantas diurus dan dikelola dengan agama.
Pemikiran dan sepak terjangnya serta jaringan jama’ahnya seolah Negara dalam Negara. Mereka ada dimana-mana; sekolah, masjid, pabrik, perkantoran, sawah dan adang, birokrasi dan instansi, media dan percetakan, bahkan militer dan peradilan.
Ia dianggap sebagai orang yang berbahaya, padahal moderat pemikirannya, lembut nian tutur katanya, teduh bersahabat tatapan matanya, indah mempesona senyum diwajahnya, bersahaja pola hidupnya dan mudah dicerna alur pikirannya.
Namun sekawanan orang yang jahat yang bersekutu dengan antek-antek Yahudi telah mengakhiri hidupnya dengan cara yang keji. Tujuh butir peluru telah menembus dadanya. Ia tak langsung tumbang karena qudrat Allah, ia masih mampu menulis plat mobil penembaknya. Bahkan dari depan kantornya, ia masih bisa berjalan meski tertatih menuju klinik terdekat, namun tak satu petugas medis yang diijinkan menolongnya. Ia gugur sebagai syahid dalam usia relativ muda (43 tahun). Bahkan jenazahnya hanya boleh dimandikan ayahnya, Sang Ahli Hadist ternama Abdurrahman As Sa’ati rahimahullah. Tidak boleh ada yang menshalatkan mayatnya.
Habib An Najjar dan Hasan Al Banna, sama-sama seorang da’i dan pejuang agama yang menolak lelah dan putus asa. Memang keduanya adalah manusia biasa, namun yang ia perjuangkan adalah warisan manusia-manusia yang luar biasa. Keduanya memang telah tiada, namun namanya tetap tercatat dalam sejarah dengan tinta emas.
Sungguh salah, jika dengan membunuhnya mereka bisa menghentikan perjuangannya. Sungguh keliru jika dengan menghabisi nyawanya, spirit jihadnya akan padam begitu saja. Justru tetesan darah Habib An Najjar dan Hasan Al Banna serta para syuhada’lah yang menyuburkan jiwa para pejuang dakwah sepanjang masa.
Semoga Allah swt merahmati keduanya dan kita semua, Umat Muhammad saw.
Suhari Abu Fatih
#Ma’hadAlFatih

