Banyak diantara kita ketika membahas persoalan lisan lebih senang membahasnya dalam konteks _man’ul kalam_ (larangan bicara) nya saja.
Manajemen lisan sering disejajarkan dengan menahan lisan daripada berbicara, sehingga dengan sangat meyakinkan kita berhujjah dengan berbagai dalil.
Mulai dari ayat Al Qur’an, hadist Nabi, _kalam_ para ulama hingga pepatah kuno.
Diantara ayat yang sering digunakan dalam rangka membuat _legal standing_ masalah ini adalah Firman Allah swt;
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ؕ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا
” _Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya_.”
(QS. Al-Isra’: Ayat 36)
Adapun hadist yang sering dipakai sebagai dalil adalah sabda Nabi saw;
*من كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليقل خيرا أو ليصمت ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم جاره ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم ضيفه*
_ رواه البخاري ومسلم
*Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata benar atau diam, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya* (HR Al bukhari dan muslim)
Adapun pepatah yang sering didengungkan adalah:
*سلامة الانسان في حفظ اللسان*
*_Keselamatan manusia tergantung penjagaan lisannya_*
Atau dalam khazanah keindonesiaan sering kita dengar istilah;
*_Mulutmu Harimaumu_*.
Sehingga kesimpulan umum yang timbul dibenak masyarakat terkait hal ini bahwa satu-satunya cara menghindari _afatul lisan_ (bahaya lisan) adalah dengan diam.
Benarkah demikian?
Sungguh, tak ada yang salah dengan dalil-dalil diatas, namun ibarat pedang kadang cara memakai dan kapan dipakai serta untuk apa dipakai, sangatlah menentukan ‘nasib’ pedang tersebut.
Lisan sebagaimana pedang adalah alat. Bisa digunakan demi kebaikan, maupun untuk tujuan keburukan dan kemungkaran.
Secara hukum asal sesungguhnya ia bersifat netral (tak memiliki hukum). Lantas, kenapa jika ada orang diam terkesan lebih baik dan lebih bijaksana daripada yang bicara?
Seolah ada hukum yang sudah terpatri jika banyak bicara secara otomatis pasti banyak dusta dan salahnya.
Frekuensi dan kuantitas logika inilah yang sering kali memicu sikap diam masyarakat kita terhadap berbagai persoalan.
Padahal diam pun banyak ragam motif dan latar belakangnya.
Bahkan sebagian orang yang sebenarnya secara profesi harusnya banyak bicara pun akhirnya lebih senang berdiam diri.
Profesi yang dimaksud umpama nya adalah anggota parlemen karena _parle_ artinya bicara dan _men_ artinya orang. Orang yang memang tugas utamanya bicara untuk menyambung lidah rakyat.
Mestinya kajian tentang _afatul lisan_ ini juga dilengkapi dengan kajian hadist nabi tentang tahapan _al Amru bil Ma’ruf wa an Nahyu anil Munkar_ yang penggalannya;
*jika ia tidak mampu mengubah kemungkaran dengan tangannya, hendaklah dengan lisannya*.
Dan bukankah sebaik-baik _jihad fi sabillah_ adalah mengatakan Al Haq di hadapan penguasa yang lalim?
Atau jangan-jangan kita masih ragu dengan kedzaliman penguasa saat ini?
Juga perlu kita cermati hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim diatas; bukankah bicara (فليقل خيرا) lebih didahulukan daripada diam (أو ليصمت)?
Dan bukankah diam terhadap kemaksiatan adalah sifat _Dayyust_ yang bahkan diancam tak akan pernah bisa mencium bau syurga?
Dan…
Bukankah diam atas kemungkaran adalah kemungkaran? Atau syetan bisu (شيطان أخرس)?
Dan…
Bicaralah wahai para wakil rakyat…!
Lisan anda mewakili jutaan umat yang menitipkan suara kepadamu..
Bicaralah wahai para khatib dan ulama karena senjatamu di _Daar Al Sulh_ adalah lisan dan penamu..
Kiblat visi umat terletak pada ketajaman lidah dan penamu.
Bicaralah wahai para pemimpin karena di akhirat lisanmu akan ditanya; kenapa engkau diam dengan kondisi umat Islam di Aleppo, Rohingya, Uighur, Iraq, Palestina dan negeri-negeri yang lain!
Bicaralah wahai rakyat.. Lantangkan suaramu atas penindasan dan pembodohan sistemik yang selama ini kalian rasakan..
*Lisanmu adalah kehormatan mu!!!*
Suhari Abu Fatih
#Ma‘hadAlFatih

