Menjelang 1922
” Apa salahnya kalau Mas Mansur jadi Muhammadiyyah atau pengikut kiyai Dahlan? ”
Tegas M. Hasyim kepada salah seorang santrinya ketika ia mempersoalkan Mas Mansur yang bergabung dengan Muhammadiyah.
Kiyai Mas Mansur adalah salah seorang santri M. Hasyim yang menjadi fans KH. Ahmad Dahlan sejak tokoh ini berkunjung ke Tebuireng beberapa tahun sebelumnya.
Ia sangat kagum dengan kapakaran Sang Pencerah dalam hal ilmu bumi dan falak.
” Tapi maaf kiyai, Menurut saya Mas Mansur iki aneh, dia tidak suka pesantren tapi lebih senang Persyarikatan Muhammadiyah itu? ”
Salah seorang santri masih mengajukan protes.
” Apa kamu yakin dan bisa menjamin, jika mendirikan pesantren itu lebih baik daripada ikut Muhammadiyah? ”
Tanya balik Sang Kiyai yang membuat santri tersebut glagapan.
” Sebagai saudara, alangkah baiknya kalau kita saling husnudzan dan menjauhkan diri dari prasangka buruk. Sebab merasa diri baik dan benar sendiri inilah sebab musabab perpecahan “.
Wejangan Hadratusy Syaikh menutup pertemuan siang itu.
Demikianlah Sang Penakluk Badai yang merupakan saudara seperguruan Sang Pencerah Umat menitipkan masa depan umat ini kepada santrinya yang hidup sezaman maupun setelahnya termasuk kita.
Maka mari kita merenung, saudaraku..!
Jika hari ini, kita yang dengan lantang mengaku sebagai pengikut dari kedua tokoh ini masih terus saja mengedepankan ego, fanatisme firqoh, tamadzhub a’ma dan penyakit hati lainnya, dimanakah posisi kita? Sedangkan mereka berdua tidak hanya tunggal guru, namun sevisi seperjuangan bahkan senasib sepenanggungan..
Jika kelak langgar M. Darwis di robohkan para centeng Keraton yang menganggap aneh ijtihad Darwis, maka Tebuireng pun dibakar hangus musuh Islam yang berkolaborasi dengan para opsir Belanda.
Jadi, siapa sebenarnya kita?
Atau mungkin lebih tepatnya; siapakah pihak yang masih ingin mengadu domba Muhammadiyah dan NU?
Jika dua kekuatan umat ini bersinergi, ia akan lahir menjadi sapu lidi kebangkitan Islam yang siap membersihkan negeri ini dari antek-antek asing..
Jika dua ormas raksasa ini saling tafaahum, bahkan ta’aawun, maka kepemimpinan negeri akan mudah dipergilirkan; 5 tahun kader Muhammadiyah dan 5 tahun berikutnya kader NU..
Saudaraku..
Ketahuilah, perpecahan itu siasat licik yang dilancarkan musuh-musuh Islam dan ketahuilah bahwa siasat ini akan sia-sia jika kita konsisten mengenal dan mengikuti jejak para Kiyai kita…!
Dan tipu daya jahat ini akan semakin sia-sia jika kita mau mengenal Islam dan konsisten memperjuangkan nya..
Hadanallahu wa iyyakum
Akhukum fillah…
Suhari Abu Fatih
Pelayan Ma’had AlFatih

