Mulai pagi tadi, saya intens menyimak percakapan wali murid di Grup sekolah anak saya. Kebetulan hari ini, Sabtu biasanya pulang lebih awal sekitar pukul 10.30. Dan agenda sekolah hari ini tidak hanya menarik anak-anak tetapi juga emak-emak. Iya cooking day, hari memasak.
Postingan foto proses memasak satu persatu mulai muncul dilayar hape saya, dan para ibu makin heroik saat Sang Ustadzah wali kelas memposting hasil masakan anak-anak. Mulai dari pepes ikan hingga nasi goreng dengan tema pemandangan.
Hanya saja pesan-pesan yang muncul setelah itu agak merusak suasana percakapan hangat di grup wali tersebut. Banyak emak-emak yang resah dengan knalpot war-wer dari pagi tadi. Pasalnya hari ini ada jadwal kampanye terbuka.
Dan apa yang dikhawatirkan ibu-ibu terhadap anaknya itupun terjadi, terutama anak-anak yang pergi-pulang sekolah dengan naik sepeda. Ya, berpapasan bahkan dipepet motor syetan dengan knalpot jeblong, wajah sangar dan bau mulut minuman beralkohol.
Merasa paling berkuasa dan sok jagoan, itulah tampilan mereka. Tatapan mata banteng ngamuk dengan bendera merah menambah serem dimata sebagian anak-anak, kecuali anak-anak yang bapaknya seperti itu.
Belum lagi telinga anak-anak belia kami yang pekak dan dada seperti berdentum dan berdegup tak karuan karena suara knalpot syetan itu.
Saya yakin anak-anak muda pemilik motor dengan knalpot syetan itu tidak memikirkan orang lain dan tak punya toleransi kepada sesama.
Belum lagi jika ditinjau dari perspektif pendidikan, penampilan dan cara kampanye seperti ini sangatlah merusak budaya dan tak ada nilai edukasinya sama sekali bagi generasi muda terutama anak-anak belia kami.
Herannya, para korban seperti saya dan anak-anak belia saya biasanya yang diminta berlapang dada dan bersikap toleran.
Saya tak peduli dengan preferensi politik anda, namun kampanye cerdas dan edukatif itu bagian dari budaya bangsa yang beradab.
Salah satu janji kampanye jokowi yang diingkari dan dikhianati adalah REVOLUSI MENTAL. Itu bullshit bagi saya, karena pendukungnya saha tak mampu dia didik mentalnya, bagaimana mau merevolusi mental bangsa? Ah ngigau sampeyan pak!
Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih

