IBADAH KAUM LIBERAL

Tahukah Anda wahai Tuan-Tuan yang melantunkan “ya lal wathon” saat sa’i antara Shofa dan Marwah, bahwa melakukan sa’i (berlari kecil) antara kedua bukit ini adalah ibadah yang disyari’atkan agar Anda bisa menghayati perjalanan Ibunda Hajar saat ia berlari hilir mudik demi mencari setetes air. Perjalanan yang dipenuhi ketundukan kepada Sang Pengatur segala urusan. Perjalanan yang dipenuhi keyakinan akan pertolongan Allah, rabbul izzati wal ikram. Perjalanan yang dipenuhi perjuangan dan mujaahadah agar bayi mungil Ismail terselematkan dari teriknya mentari gurun pasir. Jika anda fahami filosofi sa’i ini, pastilah anda akan menyusuri setiap tapak langkah antara kedua bukit ini dengan penuh ketundukan, khusyuk dan dada anda akan berdegup karena merasakan iman yang makin membuncah dan air mata yang tak henti meleleh.

Wahai Tuan-tuan, sesungguhnya Shofa dan Marwah adalah Syi’ar (tanda) diantara syi’ar-syi’ar Allah (QS: Al Baqarah: 158) yang dahulu di sepanjang jalannya dipenuhi patung dan berhala, lalu patung dan berhala itu dibersihkan setelah Islam mengalami kemenangan agar semua orang tahu bahwa tak ada yang boleh diagungkan diantara keduanya kecuali Asma Allah. Lalu bagaimana Anda bisa mengagungkan selain namaNya? Tak tahukah anda bahwa bekal setiap musafir yang berangkat ke tanah suci itu adalah taqwa (QS: Al Baqarah: (197) dan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah adalah bagian dari ketakwaan.
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS: Al Hajj: 32)

Wahai Tuan-tuan, kita sesama lulusan pesantren pastilah telah khatam akan pelajaran fiqih, hingga guru-guru kita mengajak kita beranjak lebih tinggi mempelajari tasawuf agar kita tidak hanya berkutat dalam diskursus hukum boleh-tidak boleh (fiqih ahkam), namun terus berusaha menghiasi diri dengan adab-adab dan ilmu hakikat. Pastilah anda tahu, jika ada seorang laki-laki shalat hanya dengan memakai sarung, secara hukum shalatnya sah karena dianggap telah memenuhi syarat menutup aurat, namun kenapa tidak kita temukan santri melakukan shalat dengan cara demikian? Hal ini karena tindakan seperti itu tidak mencerminkan adab kepada Gusti Allah. semua santri yang belajar tariqat sangat faham bahwa hakikat ibadah itu untuk memuliakan Sang Junjungan maka ia pakai pakaian yang terbaik (QS: Al A’raf: 30) setiap kali menghadap Allah, junjungannya. Begitu juga dengan melantunkan ‘ya lal wathon”. Jika Anda masih berkilah bahwa itu sah-sah saja dan tidak membatalkan sa’i yang anda lakukan, maka Anda belum beranjak dari level “shalat dengan hanya memakai sarung”.

Wahai Tuan-tuan, “ya lal wathon” adalah nasyid (lagu) perjuangan nan heroik yang diciptakan oleh Kanjeng Guru Yi Wahab Hasbullah demi memompa semangat juang setiap santri agar mencintai negerinya karena hubbul wathon minal iman, namun mesti muqtadhol haal. Jika sebelumnya ada jamaah yang membacakan Pancasila saat sa’i, maka tidak sepantasnya tindakan seperti ini menginspirasi anda melakukan hal yang sama. Mestinya ada perbedaan antara santri dan orang awam dalam setiap tindakan.

Wahai Tuan-tuan, bersama anda ada ribuan jamaah dari berbagai Negara yang bisa jadi baru sekali menginjakkan kakinya di tanah suci dan ingin mendapat keberkahan istijabatud du’a dari tempat-tempat mustajab. Dan salah satu tempat mustajab untuk memanjatkan doa adalah di Shofa dan Marwah. Sadarkah anda dengan nyanyian anda yang begitu lantang dan bergemuruh akan mengganggu tamu-tamu Allah yang lain yang benar-benar ingin memanfaatkan kesempatan langka tersebut untuk berdoa dengan doa-doa terbaik. Mana toleransi anda yang selama ini anda bangga-banggakan di tanah air?

Wahai Kiyai-kiyai kami di PBNU dan MUI yang kami cintai, semoga Anda semua tak bosan membimbing kami dan tak segan-segan memberikan teguran jika ada diantara kami, kaum santri ini yang melakukan kesalahan, apalagi di tanah suci dan dipublikasi dengan penuh kebanggaan diri.

Wallahu a’lam, apakah sudah sedemikian parah liberalisme menggerogoti sebagian kaum santri hingga ibadahpun diliberalisasi?

#SantriMbahSuyuti
#SantriGuyangan

Pelayan Mahad Alfatih
Suhari AF

Tinggalkan Komentar