Perbedaan pendapat tak harus berujung permusuhan, sebagaimana satu pendapat tak mesti harus join-an.
Asbab perbedaan sangatlah beragam, mulai dari yang prinsipil hingga masalah yang sebenarnya hanya se-upil.
Dulu agama, madzhab atau organisasi dianggap sebab utama perpecahan dan permusuhan, ternyata tidak sepenuhnya benar.
Benar, dalam hal agama, kita memiliki banyak sekali perbedaan namun batas demarkasinya jelas: tak ada paksaan dalam agama atau bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
Clear!
Dalam hal madzhab, luar biasa peliknya perbedaan pendapat di kalangan fuqoha, namun jika kita lakukan tahrir mahalin niza’ (analisis akar masalah) pasti setiap pendapat memiliki hujjah meski kadang lemah. Tengoklah umpamanya kitab bidayatul mujtahid yang ditulis oleh Ibnu Rusyd alHafiid. Tak akan kita temukan khilaf kecuali pasti ada sebab khilafnya.
Clear!
Dalam soal organisasi, jauh lebih mudah; itu hanya soal cara dan ruang lingkup kerja. Selain itu ada bingkai sistem dan AD/ART sehingga ketika ada persoalan dan perbedaan cukup kembali saja pada AD/ART yang telah dibuat. Tak ada yang rumit. Clear!
Ada satu sebab perbedaan yang seringkali berujung permusuhan hingga antar kawan saling menikam namun justru sering luput dari pembahasan yaitu; perbedaan afiliasi dan orientasi politik.
Persoalan ini bagi saya paling ruwet karena tak mudah mendapatkan batas demarkasinya atau melakukan tahrir mahalin niza’nya.
Mungkin kita menduga perbedaan itu hanya soal cara dan ruang lingkup kerja saja, namun ternyata ada variabel lain yang tak kasat mata.
Semua persoalan akan mudah diurai, kecuali persoalan yang berbau politis.
Makin akut dan runyam sebuah konflik, biasanya karena makin kompleks variabel politiknya.
Seringkali itu bukan sekedar BEDA PENDAPAT namun lebih sering karena BEDA PENDAPATAN.
Maka jujurlah saat berbeda pendapat, benarkah karena ide dan gagasan yang berbeda atau karena beda pendapatan?
Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih
