Saudaraku…
Masih ingatkan kita ketika Raja Salman dijadwalkan hendak berkunjung ke negara kita?
Ya, sejak dua-tiga bulan sebelumnya lini massa telah ramai membincangkannya. Tak kalah heboh, media massa, baik cetak maupun elektronik pun sibuk mengulasnya. Semua mengulas soal Sang Raja Minyak ini. Mulai dari taksiran kekayaannya hingga para pengerannya yang gagah dan ganteng.
Berita soal tangga pesawat yang dibawa langsung dari KSA hingga motif kedatangan beliau juga terus dibahas, siang dan malam.
Dan demi menyambut tamu agung nan istimewa ini, Pemerintah kita tak kalah cekatan. Segala persiapan yang sangat matang dilakukan. Mulai dari menyiapkan among tamu, menu kesukaan, pasukan pengamanan dan lain sebagainya demi memberikan kesan yang mendalam.
Lain lagi dengan para ekonom dan praktisi ekonomi, rata-rata mereka menaksir seberapa banyak nilai investasi yang akan beliau tanam di Indonesia? Ada yang memperkirakan hingga 300T bahkan. Dan tak kalah hebohnya, dua kubu yang tengah bertarung di Pilkada DKI Jakartapun menggunakan isu ini untuk saling menyerang, meski taka da hubungannya sama sekali.
Ya, demikianlah jika seorang tamu agung hendak berkunjung. Semua mata menyorot, semua telinga menyimak bahkan jantung seolah berhenti berdegup ketika tiba hari kedatangan.
Saudaraku…
Sadarkah kita bahwa hari-hari ini tamu yang jauh lebih istimewa daripada Sang Raja telah mengunjungi kita. Ya, tamu ini adalah Ramadhan Karim, Bulan Puasa nan mulia. Kedatangannya tak pernah merepotkan kita karena ia tidak minta dilayani, justru ia datang untuk memberikan berbagai pelayanan. Ia datang dengan membawa berbagai keberkahan dan fadhilah (keutamaan) yang telah dikabarkan oleh Nabi kita.
Tak hanya ibadah yang bersifat fi’liyyah (perbuatan) yang pahalanya dilipatgandakan (active income), bahkan bau mulut kita saja bisa menjadi ladang pahala yang nilainya tak terhingga (passive income).
والذي نفسي بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله تعالى من ريح المسك يترك طعامه وشرابه وشهوته من أجلي الصيام لي وأنا أجزي به والحسنة بعشر أمثالها
Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa jauh lebih harum disisi Allah daripada minyak kesturi. Ia meninggalkan makan, minum dan syahwat demi Aku. Puasa adalah milikKu dan (kelak) aku sendiri yang melayani penunaian pahalanya dan (ingatlah) satu kebajikan bernilai sepuluh kali lipat (HR Al Bukhari vol II/no.1795).
Persepsi kita tentang seorang tamu akan menentukan sikap kita dalam menyambut dan memuliakan tamu itu ketika ia datang. Oleh karena itu, Simaklah betapa istimewanya Ramadhan dalam persepsi Rasulullah saw;
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
Artinya;
Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah wajibkan atas kalian berpuasa. Di bulan ini, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu Jahim dikunci dan syetan-syetan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa tidak mendapat kebaikannya, maka ia tidak mendapat kebaikan (yang lain). (HR An Nasa’I vol.IV/no. 2105)
Saudaraku…
Persepsi tentang kemulian Ramadhan ini lalu menjelma menjadi motivasi. Motivasi inilah yang kemudian berubah menjadi aksi.
Kemudian kita lihat para sahabat Nabi begitu betah berlama-lama bersama Al Qur’an. Malam-malam mereka begitu syahdu dengan Qiyam. Siang mereka penuh dengan amal dan jihad fi sablillah. Sedekah mereka laksana sungai yang mengalir deras. Getaran qalbu mereka begitu dekat dengan akhirat dan jiwa mereka menjadi begitu peka dengan sekitar. Dan kondisi ini menjadi laku keseharian mereka pasca Ramadhan.
Dan di penghujung bulan ini, mereka mengikat diri mereka di masjid untuk I’tikaf dan ta’abbud kepada Ar Rahman. Kehidupan yang membuat iri generasi setelahnya di setiap zaman. Pola hidup yang membuat kagum sekaligus cemburu para malaikat. Diujung bulan, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang membanjir air matanya karena kekhawatiran. Khawatir karena Sang Tamu Istimewa sebentar lagi pulang dan mereka takut tidak bisa berjumpa lagi di tahun depan. Mereka juga khawatir, jangan-jangan amal-amal yang dilakukan tidak diterima.
Hadanallahu wa iyyakum
Al faqiir Suhari abu fatih
#ramadhaninkorea
#ramadhan1438H
#pkpu-hi

