Terlalu sering kita mengeluh dengan realitas masyarakat kita, laju kemaksiatan semakin tak terbendung, kekuasaan yang dhalim menambah kekacauan terus bersambung, para penegak hukum menjerat keadilan terhasung, sementara kawanan mafia semakin terbahak meraup untung saat rakyat terhimpit meraung…
Terlalu lama bangsa ini ternina bobokan, rentang masa keterjajahan begitu kuat mencengkram ulu hati membentuk mentalitas diri yang tak kunjung terobati…
jiwa pembelajar senantiasa dinanti, merajut puing-puing peradaban yang terserak tak rapi, mengejar matahari menyibak awan menebar cahaya kehangatan kembali.
Para pendiri negeri telah memulai dengan ide dan terobosan yang berani, hadiah kemerdekaan atas rahmat Allah menjadi bukti keyakinan mereka membangun negeri ini, berbeda pandangan tak harus selalu berseberangan… bhinneka tunggal ika, keinginan luhur menghimpun kemajemukan. Bagaimana mereka merumuskan Pancasila? luar biasa… tak harus kental dengan simbol semata… Maa laa yudraku kulluhu, Laa yutraku kulluhu…
PANCASILA
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Allah SWT berfirman:
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ
“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa .”
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1)
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Allah SWT berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۗ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَا ۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗۤا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan , menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi , maka ketahuilah Allah Maha Mengetahui terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 135)
3. Persatuan Indonesia
Allah SWT berfirman:
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوْا الصَّلٰوةَ ۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْ ۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
“dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan sholat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka ; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 38)
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَآىِٕ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
” Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran ”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 90)
Di antara kita enggan belajar kepada mereka yang tulus meletakkan dasar-dasar bernegara, bahkan tidak sedikit yang teramat lancang mencela dan merendahkan mereka tanpa melihat secara utuh bagaimana negeri ini bermula. The founding father’s tidak alergi sepenuhnya kepada apa yang datang dari luar apabila ia menjadi jembatan menuju kemuliaan, demokrasi bagi mereka cukup jadi sarana sehingga jangan paksakan tuduhan bahwa ia dijadikan ediologi bagi bangsa…
Para pendiri negeri ternyata mampu melakukan islamisasi dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa, tercantumnya kolom agama dalam KTP misalnya itu bukan perjuangan sederhana yang hari ini hendak dihapuskan oleh oknum yang berpura lupa akan sejarah bangsanya, islamisasi dalam bahasa sungguh syarat makna: MPR, DPR, Rakyat, Hukum, Keadilan, dll (akarnya semua dari bahasa Arab)
Maaf, sementara kita banyak yang terfokus dengan bungkus tapi lupa dengan isi…!
Jangan terpana melihat pentolan Syi’ah, pentolan JIL, pejuang sosialisme komunisme bisa masuk melenggang ke parlemen? keterpanaanmu tak cukup memberi solusi bila kesempatan memilih pemimpin engkau abaikan… bukankah itu pembiaran atas orang-orang bejat menguasai negeri?
sementara orang menuduh para anggota DPR telah membuat sesuatu yang seharusnya cukup Allah yang melakukannya… hati-hati dari fikroh khawarij yang menentang kepemimpinan khalifah Ali bin Abi Thalib. Pelajari pula bagaimana Abdullah ibnu Abbas membalik tuduhan mereka kaum Khawarij.
sejatinya kita apresiasi sebagian aktifis yang rela masuk parlemen, perjuangkan nilai-nilai Al-Qur’an As-Sunnah (*hukum Allah) masuk dalam perundang-undangan kita, perjuangkan perda-perda syariah.. jauh lebih baik dari sekedar menunggu apalagi diiringi cibiran yang tidak perlu: mana hasilnya? hasil perjuangan mereka tidak akan signifikan bila mereka belum menjadi kekuatan dominan di sana… sabar menanti kesadaranmu membersamai perjuangan yang panjang ini.
Bangsa ini sejatinya belajar kepada banyak pondok pesantren yang bertebaran di Indonesia, di antara kekayaan negeri ini yang patut disyukuri. Pesantren adalah miniatur pemerintahan Islam, miniatur khilafah Islamiyah: ada kyai pengendali keberlangsungan pesantren sebagaimana fungsi khalifah, ada masjid sentral kegiatan, ada santri yang harus tunduk dan patuh kepada aturan pesantren. Dewan kyai dan asatidz yang merumuskan tata aturan pondok jangan pula dituduh telah membuat undang-undang yang seharusnya hanya hak Allah.! adakah yang salah dari mereka yang menuangkan nilai-nilai Allah dalam bentuk tata aturan yang lebih bersifat teknis. Kalau dalam tata tertib santri dilarang bawa kambing atau ternak lainnya (Lo mau ternak atau mau nyantri?), jangan gegabah mentahdzir kyai karena dianggap mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah.
Begitu, tidak sederhana bukan?
Ternyata kita masih perlu banyak belajar, selanjutnya kita bangun Indonesia dengan torehan terindah dalam gugusan sejarah agar negeri ini kembali gagah dihuni anak-anak bangsa yang berizzah.
Klaten, 29/06/17
Anshor Hasan
#Khadim Ma’had Hidayah
#Pelayan Ma’had Al-Fatih

