Munafik Negara, Munafik Agama

Hampir semua penyakit kejiwaan sangat berbahaya karena umumnya manusia abai terhadapnya. Namun diantara penyakit jiwa yang paling berbahaya adalah nifaq atau dalam bahasa kita disebut dengan kemunafikan.

Kata “Nifaq” berangkat dari akar kata nun, fa dan qaf yg jika dirangkai menjadi “nafaq” yang berarti lubang.
Ada sejumlah hewan yang tekhnik survivalnya adalah dengan membuat lubang. Saat ia berada dalam bahaya, ia akan masuk ke dalam lubangnya dan akan keluar saat ia rasa telah aman.
Dan ini sama persis dengan gambaran perilaku sebagian manusia yang terjangkiti penyakit nifaq. Ia akan masuk ke dalam lubang kemunafikan saat merasa tidak aman dan akan keluar menampakkan kemunafikannya saat ia merasa aman.

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata: “kami telah beriman “. Akan tetapi apabila mereka kembali kepada syetan-syetan (para pemimpin) mereka, mereka berkata: ” sungguh kami ada di pihak kalian, kami hanya mengolok-olok mereka ” (QS: 2:14)

Bapak Munafikin Internasional (BMI)

Kapan mereka merasa tidak aman, sehingga mereka harus memakai baju kemunafikan?
Saat kaum muslimin berada dalam kondisi kuat dan berjaya, meski belum mayoritas.
Oleh karenanya dalam sejarah kenabian, kita tidak akan temukan kaum munafik saat fatrah makiyyah ( dakwah periode makkah) karena saat itu umat Islam dalam kondisi lemah dan tak berdaya. Jumlah tak seberapa dan belum memiliki institusi negara yang bisa melindungi mereka.
Namun saat kaum muslimin berhasil menegakkan daulah islamiyah MADINAH, kemunafikan itu menjadi strategi orang-orang kafir yang tinggal di kota itu. Dibawah kepemimpinan Abdullah bin ubay bin salul mereka ‘istiqomah’ dalam membuat berbagai rekayasa dan konspirasi untuk menghancurkan islam dari dalam barisan umat.
Mulai dari kasak-kusuk dengan kabilah-kabilah yahudi hingga berkoalisi dengan musyrikin Makkah (trans nasional). Semua itu mereka lakukan karena kebencian yang mereka pelihara.
Saat-saat perang, mereka biasa melakukan pemboikotan hingga melemahkan barisan umat Islam.
Saat Islam dan umat islam dihina, mereka justru membela para penghina.
Saat musuh bertekuk lutut, justru Abdullah bin Ubay memintakan ampunan untuk musuh tersebut.
Maka pantaslah jika kita nobatkan Abdullah bin Ubay bin Salul ini sebagai bapak munafikin internasional.
Dan saran saya kepada kaum munafik modern; belajarlah darinya agar anda sukses dalam melemahkan umat Islam!

Munafik Negara, Munafik Agama

Sekali munafik tetap munafik! Ini semboyan mereka. Yang sejatinya jika sifat ini ada pada diri seseorang akan terus melekat hingga ia mati. Setahu saya tak ada munafik yang akhirnya benar-benar bertaubat dan menyesali dosanya. Dan setahu saya sifat ini melekat pada diri seseorang baik terkait agama maupun urusan negara. Maksudnya; hampir semua pengkhianat negara adalah pengkhianat agama.

Namun karena kelihaian mereka dalam mengolah kata dan prosa sehingga fakta menjadi hoax dan hoax menjadi fakta. Yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Yang hitam jadi putih dan yang putih menjadi hitam. Yang komprador menjadi pahlawan dan yang pahlawan tampak sebagai pecundang. Yang cinta negara dan telah berkorban banyak untuk negrinya digambarkan anti pancasila dan anti NKRI. Sedangkan benalu dipuja-puja dan dielu-elu.

“Apabila engkau melihat penampilan mereka, engkau akan terkagum-kagum dan jika mereka berkata, engkau akan menyimak dengan seksama….” (QS: 63: 4)

Lihatlah tingkah polah mereka saat-saat ini; hanya demi melindungi penista agama yang bernama Basuki (bukan) Tjahaya Purnama, umat dan bangsa dibelah jadi dua; NKRI dan ANTI NKRI, PANCASILAIS dan ANTI PANCASILA, BERBHINEKA dan ANTI BHINEKA, ISLAM RADIKAL dan ISLAM LEBAY, SUMBU PENDEK dan TANPA SUMBU, ISLAM ARAB dan ISLAM NUSANTARA dan berbagai istilah yang mencemari langit kebangsaan kita.

Padahal dahulu, para founding fathers kita mempopulerkan istilah NKRI, PANCASILA dan BHINEKA TUNGGAL IKA demi menyatukan anak-anak bangsa bukan untuk memecah belahnya.
Padahal dari sejak dahulu kita sudah tahu bahwa asal muasal Islam dari jazirah arabia dan kita juga sangat tahu musuh pertama Islam adalah orang arab sendiri. Hal ini menjadi bukti bahwa Islam bukan Arabisme.
Jika mereka dalam posisi kalah dan terjepit oleh argumentasi kebenaran, mereka akan mengusir kita; “Ya kalau tidak setuju dengan NKRI dan Pancasila, silahkan pindah ke arab sana!” Lah, siapa pula yang anti pancasila?

Hal ini sudah digambarkan Al Quran sejak zaman Nabi:

“Mereka berkata: ‘ sungguh jika kita (kaum munafik) kembali ke Madinah, pastilah orang-orang yang mulia (kaum munafik) akan mengusir orang-orang yang hina…” (QS: 63: 8)

Padahal mereka tinggal di bumi Allah dan meski mereka durhaka kepada allah dengan kufur dan maksiat, pernahkah Allah mengusir mereka?

Suhari Abu Fatih Lc

Pelayan Mahad Alfatih

Tinggalkan Komentar