TUNAS BANGSA YANG DIRINDUKAN

Sedih menyaksikan pertengkaran yang diperagakan para elit di ruang publik, sejatinya mereka mencurahkan keteladanan apik bagi wong cilik. Sedih dirasa ketika nafsu kuasa begitu kentara didorong oleh nafsu angkara, demi secuil kekuasaan terlegalkan segala cara. Bukan lagi kitab suci yang dipetik sebagai panduannya, tapi lebih tertarik kepada dorongan birahi untuk menentukan pola melegenda. Kegemaran berdusta hingga hobi mencela sesama menggenapi krisis moral yang semakin menggurita.

Kesedihan tidak boleh meruntuhkan cita-cita. Mengarungi samudra kehidupan harus bersiap akan kemungkinan badai yang menerpa. Hantaman angin menciptakan riak gelombang yang menerjang karang. Lahirlah keperkasaan di pantai harapan. Bersiaplah menyebrang melewati rintangan yang menghadang. Ujian adalah sunnah pembentukan karakter ketangguhan para pejuang. Mereka generasi yang kokoh akan layak atas izin Allah memikul amanah peradaban menyibak jalan hingga kehidupan nampak terang benderang.

Allah telah menghadiahkan kejayaan kepada bangsa Arab dari sejak perintisan pada era Nabi yang bersambung berikutnya kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Allah pernah mempercayakan kepemimpinan kepada Bani Umayyah yg berpusat di Damaskus, Suriah hari ini. Pergiliran juga telah tiba pada bangsa Arya di mana mereka adalah kaum yang eksodus dari Asia tengah. Bangsa Kurdi hingga bani Mamluk atau bangsa budak yang berpusat di Mesir dan India juga pernah menerima estafet kepemimpinan peradaban. Adapun kekuasaan Turki Utsmani membentang luas dari semenanjung Arab hingga Asia selatan bahkan menembus dataran Eropa.

Muslimin Indonesia menanti gilirannya dan menjadi tumpuan harapan dalam dahaga keberjayaan yang diimpikan dan semakin menggema di seantero alam sadar ummat Islam dunia. Syekh Abu Bakar Al-‘Awawidah pejuang tangguh dari Gaza Palestina suatu hari dalam kunjungannya ke Indonesia secara jujur dan mantap pernah menyampaikan harapan dan doa tersebut di hadapan ummat Islam Indonesia. Bendera kemenangan itu akan berkibar dari timur. Kaum yang tak berbadan tinggi dan dengan hidung tak mancung telah didoakan banyak ulama’ dunia untuk bersiap merebut kembali panji kemenangan yang sedang terampas kaum tirani.

Maulana syekh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi juga menghaturkan keyakinannya bahwa kaum agraria pada saatnya akan bertunas hingga bertumbuh kokoh menjulang tinggi untuk memberi arti bagi kemakmuran bumi dengan nilai-nilai suci. Bangsa biji-bijian itu bernama Indonesia Raya. Negri yang membentang zamrud khatulistiwa dan membentuk gugusan kepulauan pada giliranya akan berkontribusi bagi tegaknya peradaban Islam kembali. Bangsa yang kemruyuk dalam semangat sinerginya itu biidznillah akan terhantar menuju pesona puncaknya dari tujuh fase peradaban Islam yang tersirat dalam suratan ayat-ayat suci.

Fase pembuka yang menyibak tirai bagi pancaran selaksa kebaikan, yaitu fase “Muhammad Rasulullah” telah tuntas secara sempurna dan bersambung menuju fase “walladzina ma’ahu (orang-orang yang bersamanya)” yang diperankan Khulafaur Rasyidin dengan torehan peletakan pondasi tata kelola pemerintahan yang menakjubkan. Kolaborasi yang berlangsung menawan antara kearifan sang pemimpin dan ketawadhuan kaum terpimpin. Keberkahan menyeruak menjelma ketentraman yang tak terlukiskan.

Dalam fase ketiga “asyidda’u ‘alal kuffar” semakin meluas wilayah kekuasaan merambah menyusuri sudut-sudut kota hingga pelosok-pelosok desa. Cahaya Islam semakin menerangi alam. Kehormatan sejati semakin menjulang yang tak tergadaikan oleh tujuan duniawi. Di bawah Bani Umayyah, kekhalifahan semakin meluas ke arah timur dan timur laut menuju India dan Cina, serta jauh ke barat dan barat daya melintasi Afrika Utara dan menuju semenanjung Iberia, ia terletak di ujung barat daya Eropa yang kini meliputi Spanyol, Portugal, Andorra, dan Gibraltar dan sebagian Prancis. 

Fase “ruhama’ bainahum” terepresentasikan dalam kejayaan Bani Abbasiyah dan fase “tarahum rukka’an sujjadan yabtaghuna fadhlan minallah” sukses melahirkan para ilmuwan ulung yang usianya melampaui umurnya. Ada Ibnu rusyd, Ibnu khaldun, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Al-Kindi hingga hujjatul Islam imam Al-Ghazali rahmatullah ‘alaihim telah menjadi soko guru bagi tumbuhnya peradaban modern. Imperium besar yang berdampak kepada kemakmuran besar.

Menara-menara masjid nampak gagah memancarkan kharisma yang penuh pesona. Membuncah ketakjuban hingga Islam semakin meluas secara mudah dan menggugah. Demikian lukisan indah dalam fase “simahum fi wujuhihim min atsaris sujud” yang diperankan secara spektakuler dalam kepemimpinan Ottoman. Kekuasaan yang membentang dalam durasi yang panjang menyisakan keterlenaan yang tertusuk kedengkian dari dalam. Biduk kekuasaan mengalami karam.

Kini dalam penantian panjang menuju fase ketujuh “kazar’in akhraja syath-ahu, fa azarahu, fastaghladha, fastawa ‘ala suqihi..” Benih mulai bertunas di lubuk kerinduan, dan tunas bangsa Indonesia menjadi salah satu tumpuan harapan untuk mewujudkan sifat-sifat yang lekat pada benih-benih pilihan: bertunas, bertumbuh, kuat mengembang besar dan tetap mengakar sehingga tangkai-tangkai perjuangan tetap kokoh pada pegangan pokoknya.

Bangkitlah wahai tunas-tunas bangsa bersendikan agama..!!

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًۢا (الفتح: ٢٩)

al-faqir ila ‘afwi Rabbihi
Anshor Hasan

Tinggalkan Komentar