WAHAI MANUSIA.. (1)

Tidak sepatutnya manusia menyengaja untuk menderita. Merencanakan nestapa. Menggores luka lara. Manusia dicipta untuk misi bahagia. Dari saripati tanah manusia tercipta untuk terus bertumbuh tunas-tunas yang akan berlambai daun-daun cinta dan bersenyawa wanginya bebunga. Betapa indahnya semesta bertabur bunga-bunga. Terukir senyum menyiratkan romansa jiwa-jiwa.

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى خَٰلِقٌۢ بَشَرًا مِّن طِينٍ (ص: ٧١)

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. (QS. Shad: 71)

Kata basyar (manusia) sesungguhnya salah satu maknanya secara bahasa adalah yang bersuka cita. Bisyr, Bisyarah dan Busyra yang berarti gembira, bahagia merupakan padanan kata dengan kata Basyar (manusia). Secara tegas Allah mempromosikan di hadapan para malaikat akan penciptaan manusia dari suatu jenis yang memiliki tekstur lembut dan subur (tanah), yang dengan bahan baku tersebut sejatinya akan tumbuh subur kebahagiaan dalam panggung kehidupan.

Dan di bumi terhampar untaian karunia tak terhingga. Allah telah mengatur takaran rizki manusia, tidak akan pernah tertukar dan tidak mungkin raib memudar. Ambillah penuh kesungguhan secara benar. Rizki insya Allah akan lancar. Dengannya akan terpenuhi hajat makan dan minum sehingga badan tetap bugar. Bahagia dengan roman wajah berbinar. Alhamdulillahi wAllahu Akbar.

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا (الكهف: ١١٠)

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kalian itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya. (QS. Al-Kahfi: 110)

Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling bahagia. Beliau memiliki naluri asasi seperti keumuman kita. Butuh makan, minum. Butuh berkeluarga. Ada saat mengantuk dan tidur. Mendengar dan berbicara. Tertawa dan menangis serta berbagai hal yang melekat dengan fungsi hawa di dalam diri manusia. Pembedanya kita tidaklah ditunjuk sebagai Nabi dan Rasul sedang beliau adalah seorang utusan yang senantiasa terbimbing dengan wahyu Allah (yuha ilaih).

Seorang Rasul tentu kehadirannya untuk diikuti, maka setiap ayat yang diwahyukan kepada beliau hakekatnya juga teruntuk diri kita ummatnya. Ayat demi ayatnya adalah panduan sempurna yang terjaga kalimat dan kandungannya. Dan disebabkan sentuhan wahyu yang agung, sang Nabi menjalani kehidupan dalam ketentraman. Seluruh rangkaian hidupnya penuh kebahagiaan. Meneladani beliau akan diikuti curahan kebahagiaan sebagaimana tercurahkan kepada beliau.

“Kita adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang“ menjadi patron kebersahajaan yang berdampak pula bagi kesehatan. Memilih menjadi kaya raya tidak berarti pembenaran mengayuh jalan isrof (foya-foya). Maka dalam praktek memenuhi hajat perut kita tidak berlebih meski pada sesuatu yang sangat disukai. Banyak penyakit salah satunya bersumber lewat makanan, baik karena zat yang terkandung di dalamnya maupun karena terlalu banyak memenuhi lambung yang melampaui batas porsinya. Hidup sehat bagian dari cara bahagia dalam guyuran nikmat.

“Rumahku adalah surgaku” sebuah pernyataan yang tulus penuh hikmah tanpa adanya tekanan dari orang-orang yang dicintainya dalam keluarga. Suasana surga sebelum surga yang sebenarnya di akhirat nantinya. Perkara materi bukan hal inti bagi perwujudan kemesraan hati. Bermacam karakter hati menyatu padu dalam keindahan tak terperi. Keluarga guyub dalam kekuatan kolaborasi yang terpatri ayat-ayat suci. Keluarga besar dengan tanggung jawab besar dijalani dengan jiwa besar hingga karunia kedamaian dalam membina keluarga begitu besar. Allah Akbar.

Ayat-ayat Al-Qur’an sedemikian benderang sebagai panduan berjuang, agar selalu dalam suasana hati yang riang dan tetap lapang. Petunjuk sempurna dari perkara di atas ranjang hingga panduan terjun ke medan perang. Ketentuan bagaimana mengasah akal hingga menajamkan pedang. Menepis aral melintang. Menembus zaman dan ruang. Menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara hingga Islam semakin bersinar terang. Menjadi manusia menjadi pemenang.

Umar ibnu Khaththab dalam puncak gemuruh jiwanya justru luluh dalam kesadaran memupuskan derita. Menumpahkan darah orang yang dibencinya akan menyisakan perasaan tersiksa. Syahdunya ayat pada awalan surat Thaha membelai jiwanya hingga berjumpa jalan bahagia. Kekuatan hidayah singgah menyapa nuraninya untuk kembali menjadi manusia yang sesungguhnya. Bahagia. Naluri akan tetap tersalur tanpa durhaka.

Dalam sempurnanya jalan petunjuk, kenapa berpaling dalam rangkaian mengagungkan rapuhnya propaganda? Ada cermin kesempurnaan pada pribadi sang Rasul yang penuh cinta, bagaimana bisa memilih cinta yang berlumur bencana? Ada banyak pilihan berkarya pada level potensi diri kita, betapa anehnya berkiblat kepada kemegahan budaya lain yang penuh dusta.

Wahai manusia.. jangan bermuram durja!!

Anshor Hasan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *