SAF (pengasuh Pesantren Al-Fatih)
Hampir setiap saya membaca ayat; ليس كمثله شيء وهو السميع البصير yang terlintas di benak saya adalah bahwa Dzat Allah SWT tidaklah serupa dengan dzat makhluk-Nya. Senada dengan ini pula ketika saya membaca ayat; ولم يكن له كفوا احد bahwa tak ada seorang pun yang serupa dengan-Nya. Hanya itu.
Hingga ketika pagi ini ketika saya membersihkan musholla As Sakinah di sebelah rumah saya. Sambil nyapu dan ngepel saya melantunkan bait-bait pujian dan permintaan kepada pemiliknya.
“Ya Allah, Sang Pemilik rumah ini (musholla) dengan amalan saya pagi, aku meminta kepada-Mu agar Engkau melindungi kami dari berbagai penyakit yang mengotori jiwa. Aku juga meminta kepadaMu agar engkau berkenan menjaga kesehatan kami. Aku juga meminta kepadaMu agar engkau menjaga dan men-shalih-kan putra-putri kami”…aamiin.
Namun sejurus kemudian, tiba-tiba muncul rasa malu yang luar biasa. Ya Allah, amal segini kok saya meminta balasan sebanyak itu? Lalu saya beristighfar tak henti-hentinya sambil terus menggerakkan alat pel saya.
Tapi tak selang berapa lama, muncul di alam pikiran saya ayat-ayat diatas. Lalu muncul pertanyaan demi pertanyaan. Bukankah Dia tidak sama dengan makhluk-Nya? Bukankah Dia selalu bergembira saat diminta? Bukankah permintaan-permintaan saya tidak akan sedikitpun mengurangi kekayaanNya? Dan berbagai pertanyaan yang lain, datang silih berganti.
Saya baru teringat bahwa ketidaksamaan Allah swt dengan makhluknya ini tidak hanya dalam soal dzat, namun juga dalam sifat dan af’al (perbuatan).
Kalau manusia, umumnya hanya akan memberikan gaji dan upah kepada karyawan sama persis dengan kadar kerja yang diselesaikan oleh karyawannya. Tidak demikian dengan Allah SWT. Dia selalu memberikan balasan lebih, bahkan berkali lipat dibandingkan amal hamba-hambaNya.
Umumnya manusia, tidak akan memberikan upah kepada karyawan yang berhalangan kerja. Tak ada kerja, tidak ada upah. Itu standar umum manusia. Namun tidak demikian dengan Allah SWT. Allah swt selalu memberikan ganjaran, bahkan sejak hambaNya baru berniat untuk melakukan amal. Belum ada wujud amalnya secara nyata, namun pahala telah diberikan.
Itulah Allah swt. Itulah sifat-sifatNya. Maka tak ada salahnya apa yang tadi saya minta. Tak perlu saya merasa malu. Dan tak perlu pula saya meng-cancel-nya. Toh Dia Dzat yang tidak itung-itungan seperti manusia. Dan yang jelas, perbendaharaannya tidak sedikitpun berkurang karena permintaan saya. Karena Dia bukan kita.
لك الحمد ولك الشكر تباركت يا ذا الجلال و الإكرام

