APA MAKNA TAWA KITA

Adakah yang lebih genting dari saat menyadari keadaan sedang terkepung para durjana yang hendak merampas nyawa? Bagi yang terjerat dunia ia adalah bencana yang bersulam siksa, tetapi tidak selalu demikian bagi yang melebur dalam pusaran cinta yang mengguyur romansa jiwa -cinta kasih Allah membelai lembut merasuki kalbu yang tertunduk menghamba. Di atas sajadah cinta mengalir bahagia.

Ali bin Abi Thalib ra. tetap sumringah bahkan ketika pedang telah terhunus menyambar tubuhnya yang mulia, “aku belum mati kan, sebab Nabi menyebut kematianku bila ditandai sabetan pedang di bagian kepala” masih ada canda pasca tikaman Ibnu Muljam yang tak kuasa merenggut syahdu cintanya. Canda yang menyiratkan takwa. Keimanan yang memenuhi jiwa memancarkan bahagia. Darah yang deras mengucur dari tubuhnya terhanyut dalam gelombang cinta. Rasa sakit terkalahkan oleh manisnya iman pada kedalaman jiwa.

Sudah banyak yang berguguran terbaring dalam bungkusan kafan corona. Benarkah semua karena kerawuhannya menggantikan Izrail yang mengantongi sertifikat pencabut nyawa? Menurut titah-Nya kematian mengintai setiap manusia dan semua yang bernafas di alam fana. Corona tak ubahnya ujian yang dengannya terdata ragam jiwa. Ada yang merana, ada pula yang tetap merona. Ada yang melaju dengan karya-karya, ada yang memilih jalan alpa.

Bermacam tawa membahana. Sebagiannya tertawa terpingkal-pingkal mengolah bancaan bansos yang diatas namakan rakyat jelata, tanpa menyadari sesungguhnya merekalah yang paling jelata dengan merasa paling berhak mengambil jatah suka-suka dan sebanyak-banyaknya. Mereka benar-benar jelata logika hingga kesurupan dunia. Lupa segala. Kematian mengintai siapa saja bahkan ada atau tanpa corona.

“Di rumah bisa mati, di masjid juga mungkin mati. Mending mati di masjid ta’iyeh.” Sergah warga di satu kepulauan menolak seruan menutup masjid-masjid mereka. Apa pun yang terjadi mereka menolak kesedihan berlama-lama, cukup satu dua hari membaca situasi hingga bersepakat pada satu titik keyakinan: Jangan lupa tertawa! Jangan lupa bahagia! Kembali tertanam iman bahwa Allah Yang Maha Kuasa atas segala peristiwa. Tidak ada beban kecuali sesuai kemampuan yang ada.

Beribu cara mereka memeragakan parodi penuh jenaka tanpa menista agama. Tanpa tendensi apa-apa, kecuali dimaksudkan untuk sesuatu yang menyiratkan selaksa makna. Menasehati sesama tanpa membuat luka menganga. Tawa menjadi pelipur lara hingga terus bersambung bahagia. Si tukang sate kipas-kipas agar apinya tak perlu menyala, cukuplah yang memerah membara yang menabur cita rasa sebelum dijajakan kepada para pelanggannya.

Jangan terlampau cepat emosi dengan menghakimi seorang hajji asal madura yang seusai melaksanakan ibadah hajji mengajak kawannya mampir ke prancis untuk membeli playboy. “Hah..!! Apa kau bilang, Kau hendak membeli playboy?” Ah, rupanya kita kalah level dengan mereka dalam canda. Canda mereka menyiratkan cinta atas sebagian kawan-kawan lainnya yang terseret seremoni raga nan hampa makna.

Si hajji madura ini sedang menyindir sebagian kecendrungan tipu daya dengan guyonan yang tak akan membekas luka. Play itu maksudnya mainan, sedang boy menurutnya berarti anak-anak. Tanpa malu ada “sekian anak-anak” banyak bermain-main dan justru di haramain. Ada kerudung yang cukup nyelampir di kepala dan terbang diterjang topan saat berlalu sekian waktu setelahnya. Animo keberangkatan menuju tanah suci begitu besar, tapi masih sangat besar pula arus birahi yang bermaksud menutupi hobi korupsi. Tidakkah beranjak dari kegandrungan ibadah yang penuh main-main belaka?

Indahnya tawa ketika tanpa lupa takwa. Mereka bercanda untuk terus bahagia hingga akhir hayatnya. Lucu bermutu mendengar cerita seorang jamaah hajji tak henti-hentinya melafadz hamdalah kala sekujur tubuhnya tiba-tiba terhuyung hingga terinjak-injak dalam kerumunan thawaf. Ketika di ujung insiden ia masih tersengal-sengal menghela nafasnya ia lantas menyeru: “Innalillah., ternyata aku belum mati.” Nampak seolah ia kehilangan moment terindah yang dihayatinya.

Baginya acara pamitan menjelang keberangkatannya ke tanah haram meninggalkan pulau garam yang telah menempanya dengan asam garam kehidupan, ia maknai sebagai perpisahan dengan sanak saudara bersama harapan bukan untuk kembali lagi. Merindukan kematian di sisi rumah-Nya yang suci adalah ekspresi cinta tingkat tinggi yang sulit dipahami oleh orang-orang yang terlena di alam campursari. Maqam para wali seringkali disangka sekedar ilusi.

Berhentilah mencurigai para kyai yang seolah abai terhadap protokol kesehatan di masa pandemi yang penuh misteri. Mereka guru ngaji. Mereka juga mengajarkan fiqih di mana bab Thaharah menjadi awal pembahasan untuk kaum santri. Ngaji yang merajut serakan hati, bukan ngaji yang mengajak menjauhi salah satu sumber kedamaian hakiki. Ngaji yang mengusung semangat kolaborasi, bukan pertunjukan basa basi. Ngaji yang menginspirasi taman-taman surgawi, bukan yang penuh caci maki.

Peniti jalan-jalan takwa selalu tertawa bahagia, tidak luntur keyakinan akan qadha dan qadar-Nya. “Hishni Ajali (pengawalku adalah ajalku)” Seru Ali bin Abi Tholib di detik-detik akhir kesejarahannya menguatkan kekhawatiran kaum pembela setia. Jangan ada buruk sangka kepada para perajut cinta. Sayyidina Ali bin Abi Tholib meniti jalan takdirnya menepati janji perjuangan dan pengorbanan pada titik darah penghabisannya.

Ali bin Abi Tholib dengan sempurna mengakhiri hayat tanpa pengawalan saat firasat telah menuntunnya menuju tempat terhormat. Dengan damai disusurinya jalan-jalan yang lengang untuk menegakkan sholat. Sembari bersholawat merindukan pertemuan dengan sang kekasih yang terpilih menebar syafaat. Sayyid Ali karramallahu wajhahu ridha menjalani amanat hingga tiba pada isyarat menuju wafat.

Jangan lancang menuruti tuduhan atas manusia-manusia mulia. Tawa hingga canda mereka selalu melampaui logika. Di penghujung kehidupan memancar cinta tanda ridha. Boleh jadi kitalah yang masih jauh dari protokol keikhlasan dan keridhaan dalam jiwa. Bahkan andaikan kita berada di taman-taman bunga, maka tetaplah sang Pemilik akan memilih untuk memetik bunga-bunga yang merekah penuh pesona.

Al-Faqir ila ‘afwi Rabbih
Anshor Hasan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *