Oleh : Ismail Abu Fahd
Dahulu kala sebelum Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam lahir, pendahulu (baca: buyut) beliau yaitu Bani ‘Adnan pernah mengalami perlakuan yang tidak baik dari kalangan seterunya yaitu Bani Jurhum. meskipun di wilayah Hijaz (Mekkah dan sekitarnya) mereka (Bani ‘Adnan) di kenang sebagai keturunan yang membangun Ka’bah Al-Musyarrofah, namun hak-hak mereka di kebiri
Sampai suatu ketika ada penyerangan ke Hijaz oleh bukhtunasshor (barat: Nabuchadnezzar) yang menjadi momentum dan titik balik dari Bani ‘Adnan, dan momentum itu tidak di sia-siakan oleh mereka sehingga singkat cerita mereka dapat kembali memimpin di wilayah Hijaz baik secara de jure maupun de facto. Itu dibuktikan bahwa pemimpin dari bangsa Arab dalam peperangan melawan Nabuchadnezzar di Dzatu ‘irq adalah dari ‘Adnan bukan lagi dari Jurhum
Pengaruh kebaikan mereka berlanjut hingga dilanjutkan para dzurriyyah, diantaranya didirikannya Darunnadwah (tempat berkumpul untuk urun rembug dalam menyelesaikan masalah dan membuat kebijakan) oleh Qushay bin kilab dengan segala manfaatnya yang dapat dirasakan dari masa ke masa, seperti adanya Qiyadah (pemimpin safar dalam perjalanan dagang), Hijabatul Ka’bah (penanggung jawab resmi buka tutup Ka’bah), Rifadatul Hajj (Penanggung Jawab memberi makan kepada para hujjaj) dalam rangka memuliakan pengunjung Ka’bah dan kebaikan-kebaikan lainnya
Sehingga jama’ kita ketahui kebaikan-kebaikan itu pun secara tersurat maupun tersirat dilanjutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti anjuran musyawarah dalam memutuskan perkara, memuliakan tamu, memilih pemimpin bila ingin melaksanakan safar dan lain-lain
Hari ini kita punya Ramadhan.
Ramadhan adalah momentum yang luar biasa bagi orang-orang yang beriman, sarana untuk menempa diri, muhasabah diri, meningkatkan kualitas taqarrub dan penghambaan terhadap ilahi Rabbi, siapa yang bertemu dengan bulan yang mulia ini, sudah seyogyanya memanfaatkan dengan sebaik-baiknya karena belum tentu momentum ini dapat terulang kembali
Takwa yang menjadi Goal (tujuan) dari Ramadhan berpotensi dapat diraih oleh siapapun yang betul-betul bersungguh-sungguh mengupayakannya, dan takwa itu sendiri adalah level kemuliaan tertinggi di sisi Allah Subhanahu wata’ala
قال تعالى : إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير (الحجرات: ١٣)
Allah berfirman: Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kalian, dan Allah maha mengetahui lagi maha mengenal (QS Al-Hujurat : 13)
Pelipat gandaan pahala, adanya Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan, sudah sepantasnya dimaknai sebagai penggairah dalam meraih ridlo Ilahi
Menjadikan Ramadhan sebagai momentum meraih bekal sebaik-baiknya dalam mengarungi bahtera kehidupan baik di sebelas bulan berikutnya maupun bekal menghadapi kehidupan setelah kematian adalah suatu yang harus diupayakan bila ingin bersinar di kemudian hari dan di hari nanti yang pasti terjadi
Semoga momentum ini dapat kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya sehingga happy ending yang kita dapati, Aamiin
Tulung, 27 Ramadhan 1444 H

