Meski beda, kita tetap bersaudara

SAF (Pengasuh PPM Alfatih Klaten)

Kementerian Agama (Kemenag) menyebut, tahun ini ada kemungkinan terjadinya perbedaan penetapan awal bulan Syawal 1444 H di Indonesia, sehingga tanggal Hari Raya Idul Fitri 2023 diprediksi berbeda.

Melansir NU Online, ketinggian hilal pada tanggal 29 Ramadhan 1444 H meskipun sudah di atas ufuk saat matahari terbenam, tetapi masih di bawah kriteria minimum imkanur rukyah (visibilitas) atau kemungkinan hilal dapat terlihat yaitu 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Oleh sebab itu, pemerintah melalui SKB 3 Menteri terbaru, menetapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1444 H jatuh pada 22 dan 23 April 2023. Dalam SKB tersebut juga telah ditetapkan cuti bersama Lebaran 2023 mulai 19 April.

Sedangkan PP Muhammadiyah telah resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 2023 jatuh pada Jumat, 21 April 2023. Hal ini sesuai dengan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/1.0E/2023 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah 1444 H.

Demikian kutipan berita dari:  https://www.cnbcindonesia.com/syariah/20230416092601-29-430303/kapan-idul-fitri-2023-ini-versi-pemerintah-muhammadiyah-nu

Dalam suasana perbedaan seperti ini, sebaiknya para tokoh menahan diri dari memberikan statement yang justru bisa memperkeruh keadaan dan menambah kegaduhan.

Secara fiqih, akar persoalan ikhtilaf ( sababul khilaf ) masalah ini adalah adanya perbedaan methodologi antara madzhab rukyah dan madzhab hisab. Kalau sebabnya seperti ini, maka toleransi dan saling menghargai adalah sikap terbaik, tidak perlu bersitegang apalagi saling serang.

Dalam tulisan ini, penulis hendak melakukan otokritik terhadap pernyataan Nadirsyah Hosein, Ph.D, seorang WNI yang menjadi dosen di Australia karena berpotensi menambah kegaduhan.

Dalam pernyataannya, Nadirsyah tampak berambisi sekali untuk “menyerang” ormas Muhammadiyah. Berikut kutipan pernyataan beliau;

“Kaidah fiqh mengatakan: hukmul hakim yarfa’ul khilaf. Keputusan pemerintah itu menghilangkan perbedaan pendapat. Jadi, mau pakai hisab atau ru’yat, perdebatan selesai setelah Pemerintah mengambil keputusan lewat sidang Itsbat.

Siapapun Menteri Agama-nya, mau dari ormas manapun, semuanya harus patuh pada keputusan sidang Itsbat.

Buat apa ada sidang itsbat kalau ormas mementingkan egonya sendiri? Ini kita bicara kaidah fiqh yah”.

Kritik pertama saya; se-populer apapun kaidah fiqh ia tetap bukan dalil syar’i sehingga tidak bisa dipakai untuk menetapkan hukum syariat, apalagi digunakan untuk memaksa ormas tertentu agar mengikuti keputusan yang berbeda dengan ijtihad-nya (baca; pemerintah).

Kalau kaidah ini tetap dipaksakan untuk dipakai, maka ada kaidah fikih yang lain yang bisa digunakan untuk menolaknya. Kaidah itu berbunyi;

الاجتهاد لا ينقض بالاجتهاد

“Suatu ijtihad tidak bisa dibatalkan dengan ijtihad (yang lain)”

Artinya; para mujtahid wajib meyakini ijtihad-nya masing-masing namun mereka tidak bisa dan tidak boleh memaksa pihak lain untuk mengikuti ijtihad-nya.

Kritik kedua saya terkait pernyataan/pertanyaan; “buat apa sidang istbat kalau ormas mementingkan egonya sendiri?”

Justru pertanyaan-nya bisa juga dibalik; buat apa sidang istbat kalau hari raya versi pemerintah sudah ditetapkan 22 April 2023?

Atau buat apa diadakan rukyah kalau visibilitas-nya nol?

Bahkan dalam konteks hilal tidak mungkin dilihat (tidak imkanur rukyah), seandainya ada orang yang mengaku atau bersaksi telah melihat hilal maka secara teoritis (ilmu Falak) kesaksiannya harus ditolak.

Artinya tetap saja acuan utamanya adalah ilmu hisab/Falak. Maka tidak perlu ngotot atau merasa paling alim dalam persoalan seperti ini karena masing-masing punya argumentasi-nya sendiri.

Sikap terbaik dalam kondisi seperti ini adalah saling menjaga persatuan dan perasaan sesama muslim, baik yang merayakan 21 atau 22 April, toh semua meyakini tanggal tersebut adalah 1 Syawal 1444H.

Adapun pendapat siapa yang benar disisi Allah, itu urusan nanti di akhirat.

Indah sekali sikap toleransi dan tenggang rasa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Beliau pernah berpesan kepada para sahabat, jika utbah atau durrah (kedua anak abu Lahab yang sudah masuk Islam) mengikuti shalat berjamaah, maka sang imam dilarang oleh beliau untuk membaca surat Al Lahab demi menjaga perasaan keduanya. Meskipun ayahnya (Abu Lahab) mati dalam kondisi kafir dan tercatat sangat memusuhi Rasulullah, namun kedua putranya adalah seorang muslim yang baik, maka perasaannya wajib dijaga.

Itulah toleransi. Itulah tenggang rasa. Meski berbeda, kita tetap bersaudara!

Wallahu a’lam…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *