MENCARI CINTA YANG TERHEMPAS BENCANA

Allah memberi petunjuk jalan yang terang benderang, tapi seringkali manusia memilih jalan menghilang. Allah “berkirim” surat-surat cinta, namun banyaknya manusia lebih menggandrungi surat-surat kaleng yang nampak lebih menggoda.

Begitu merebak riba. Sedemikian marak perjudian dengan ragam formula. Bertambah banyak minuman-minuman keras dengan aneka mereknya. Semakin membudaya zina. Semakin menggila kecurangan dan dusta. Bertambah pongah kaum yang durhaka. Sedang peniti jalan cahaya terus redup melemah daya. Kemanakah kita?

Sejenak, bercerminlah diri mencari wajah sendiri yang tenggelam dalam tsunami! Tsunami jiwa sedemikian dahsyat memporak-poranda hati hingga terkulai tanpa daya tiada energi. Padahal pada kedalaman hati tersimpan dokumentasi janji kita untuk setia kepada Allah sampai tiba menghadap-Nya kembali. Kemanakah diri untuk setulusnya mengabdi?

يقول الشيخ الشعراوي رحمه الله : ”إن العبد ليغفل عن ربه حتي ينساه ، فيشتاق له ربه فيرسل من حبه بلاء يذكره به حتي يعود العبد يحب الله ، فيحبه الله ، فيرفع عنه البلاء ، ويرزقه رزقاً طيبا”

Syekh Asy-Sya’rawi rahimahullah: “Sungguh seorang hamba lalai dari Rabbnya hingga mencampakkan-Nya. Dirindukannya kawula meski harus digertak dengan bala’ sebagai tanda cinta-Nya. Kembalilah cinta bersua cinta-Nya, dan menjauh bala’ berganti guyuran senikmat-nikmat karunia.”

Allah terus memanggil-manggil dengan mesra agar kawula jangan sampai merana di jalan keberpalingan dari Tuhannya. Allah menagih agar cinta jangan terlumat nafsu angkara. Berlumur dosa-dosa menjadi hijab hingga terjauhkan manisnya cinta-Nya. Di manakah kita?

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah menguji mereka” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302)

Kemanakah kita saat musibah melanda? Di manakah airmata yang dahulu dicipta agar ia menjadi gelombang cinta? Sedemikian cepatkah airmata mengering bersama gersangnya jiwa? Kita kehilangan aliran dan lelehnya tapi terus memilih menjauh dari sumbernya. Dzikir kita, pertaubatan kita tergusur oleh ego seakan kitalah yang akan membereskan prahara?

Dahulu, kaum salaf sedemikian cepat menemukan tali layarnya saat sedikit terhuyung di atas bahtera pengabdian mengarungi samudra cinta. Gempa tak sampai melantakkan belantara tapi jiwa-jiwa mereka seketika kembali mendekap cinta-Nya. Bahkan kedatangan seekor tikus di pojok ruang mereka, cukup menyadarkan segera untuk bertanya pada kebeningan jiwa; adakah tilawah Al-Qur’an dalam seharian? adakah tahajjud dalam betahnya sujud? adakah tersalurnya sedekah tanpa motif menjajah? masihkah puasa untuk persembahan lebih bermakna? Jangan ragukan bagaimana ending persembahan bakti mereka.

Kini, banjir menjadi ajang mencari kursi dan untuk melanggengkan jabatan yang terancam arus persepsi. Sedang sajadah suci terhempas lepas dalam pegangan yang renggang. Ragam argumentasi tidak lagi murni mencari solusi. Perseteruan abadi mengalahkan persatuan sejati. Bencana di atas bencana. Jangan ikutan menambah bencana dalam suasana guncangan derita nestapa.!

Dahulu kaum sufi murni menyemai benih-benih kebahagiaan di pekarangan jiwa yang tersiram kerinduan. Kini kaum sufi tak lebih merupakan kaum yang suka film (sufi). Perguliran malam menjadi saksi atas persaksian film-film yang melalaikan. Saat dini hari tiba tak lagi deras lafadz-lafadz istighfar, sebab jasad-jasad telah terguling terkapar. Entah bagaimana shubuh hendak menabuh sayembara jiwa yang teduh dalam simpuh. Menghadapkan sholat yang utuh tanpa uwuh.

Saatnya kembali untuk tidak kembali lagi; marilah kembali kepada yang hakiki, mengabdi dan terus mengabdi tanpa dikotori. Jangan kembali lagi kepada kedurhakaan yang kesekian kali.! Jangan menanti kemurkaan yang tak berujung tak bertepi.!

كم نطلب الله في ضر يحل بنا . فإن تولت بلايانا نسيناه
ندعوه في البحر ان ينجي سفينتنا . وإن رجعنا الى الشاطئ عصيناه

Betapa kita mencari Allah kala bahaya menimpa kita, dan jika petaka telah sirna kita melupakan-Nya
Kita meminta dari atas bahari (dengan kesungguhan) kepada-Nya keselamatan bahtera kita. Begitu tiba ke tepian pantainya, kembali lagi kita bermaksiat kepada-Nya.

Ya Rabb, ihfadzna wal muslimin.. Ya Allah, saat hamba berpeluh untuk merengkuh kembali cinta-Mu, dekaplahlah hamba dalam eratnya kasih sayang hingga tidak lagi menghilang.

Anshor Hasan
Klaten, 26 Maret 2020

Tinggalkan Komentar