VIRUS +62

Di negeri +62 ini, semua orang adalah pakar. Semua orang adalah ahli. Dan semua orang adalah ulama yang berhak mengeluarkan fatwa keagamaan.

Maka jangan heran, jika semua orang tiba-tiba jadi ahli medis dan pakar #virus. Semua bisa bicara apa saja soal #wabah #corona ini, seolah-olah mereka telah melakukan #riset dan penelitian ilmiah soal itu.

Semua orang juga tiba-tiba jadi ulama dan ahli fikih & Ushul fiqh. Seolah-olah mereka telah belajar ilmu agama selama puluhan tahun. Tiap hari membaca dan menelaah kitab sehingga ribuan kitab telah tuntas ia kaji.

Sehingga semua orang bisa dan berani mengeluarkan fatwa keagamaan, lalu dengan santainya membantah fatwa MUI yang telah resmi dikeluarkan.

Inilah budaya di negeri +62. Budaya menghargai kepakaran di negeri ini sungguh sangat payah, plus su’ul adab terhadap para ulama telah melampaui batas kewajaran.

Satu-dua orang yang tak jelas latar belakang keilmuannya bisa dijadikan rujukan dan tulisannya lebih menarik untuk disebarluaskan sehingga lebih viral daripada fatwa resmi MUI.

Bahkan sebagian orang yang ngajinya baru kemarin sore berani mengajari para ulama soal qodho dan qodar lalu menganggap para ulama MUI takut dengan kematian alias cemen (baca; Betawi).

Jika anda berhati-hati saat berkendara di jalan raya itu artinya anda sedang menjalankan syari’at Allah swt, bukan tidak percaya dengan qodho dan qodar Allah. Bukan pula karena takut mati.

Adapun pada akhirnya anda tetap kecelakaan, (ditabrak orang misalnya) maka saat itu yang berlaku adalah takdir Allah swt. Kehati-hatian Anda tetap dinilai sebagai ibadah.

Namun jika karena alasan takdir dan bahwa semua telah ditentukan oleh Allah swt, lalu anda ugal-ugalan di jalan raya lalu anda kecelakaan maka sungguh Allah swt tidak akan rela dibawa-bawa dalam urusan kecelakaan anda tersebut.

Jika anda memiliki pola hidup yang jorok atau tidak pernah berolah raga atau sering begadang bahkan mengkonsumsi obat-obatan terlarang, lalu anda membawa-bawa takdir saat Anda sakit maka anda sedang menuduh Allah swt telah berlaku dzalim kepada anda, padahal anda sendiri yang dzalim terhadap diri sendiri.

Saat Sayiduna Umar bin Khattab memutuskan kembali ke Madinah setelah mendengar kabar adanya wabah melanda Negeri Syam, sungguh beliau tidak sedang melarikan diri dari kematian. Namun berpindah dari satu takdir kepada takdir yang lain. Itulah ikhtiar yang memiliki legal standing yang sangat kita dalam syari’ah Islam.

Itu pula arahan kanjeng Nabi Saw jika ada wabah yang melanda suatu kawasan; “Jangan kalian memasukinya dan yang berada di kawasan tersebut janganlah keluar darinya.

Arahan nabi ini bukan karena takut mati atau tidak percaya dengan qodho dan qodar Allah swt tapi upaya maksimal dalam berikhtiar meminimalisir madharat yang timbul.

Maka dalam kondisi seperti ini, hendaknya tiap kita berhati-hati dalam menyebarluaskan tulisan atau membuat pernyataan.

Jangan sampai tulisan atau pernyataan yang kita sebarluaskan makin membuat kacau keadaan.

Kembalikan urusan kepada ahlinya. Serahkan fatwa kepada pakarnya. Simaklah firman Allah swt berikut ini;

(وَإِذَا جَاۤءَهُمۡ أَمۡرࣱ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُوا۟ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰۤ أُو۟لِی ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِینَ یَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَیۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنَ إِلَّا قَلِیلࣰا)
Artinya;
Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu). [Surat An-Nisa’ 83]

Rasulullah Saw juga bersabda:
«إذا وُسِّدَ الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة» (رواه البخاري)

Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahli (pakar)nya, maka tunggulah kiamat (kehancurannya).

Semoga Allah swt segera mengangkat bala’ ini dan menghindarkan kita dari kegagalan mematuhi ulama dan umara’ kita.

Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih Klaten

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *