Syaikh Yusuf Al Qaradhawi hafizhahullah pernah mengatakan :
“Manhajku selama hidupku adalah untuk membangun bukan menghancurkan, untuk menyatukan bukan memecah belah dan aku membiarkan setiap orang dg pilihannya sendiri, aku tidak mengharuskan orang lain untuk mengikuti pendapat dan ijtihadku dan merekapun tidak mengharuskan diriku dgn pendapat dan ijtihad mereka”.
Jika Allah ta’ala memerintahkan rasulNya yg mulia untuk mengatakan kepada orang2 kafir ” bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku ” kenapa aku tidak mengatakan kepada saudara-saudaraku para ulama ” untuk kalian ijtihad kalian dan untukku ijtihadku, dan bagiku amalku dan bagi kalian amal kalian “
Inilah sikap seorang ulama mujtahid yang robbani dalam persoalan perbedaan pendapat yang sering terjadi antara dirinya dengan ulama yang lain.
Inilah tradisi para ulama sepanjang masa. Imam Syafi’i pun memiliki sikap yang hampir sama dengan beliau. Suatu kali Al imam berkata;
قولي صواب يحتمل الخطأ وفول غيري خطأ يحتمل الصواب
“Pendapatku benar tapi tetap mengandung kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang lain salah tapi tetap mengandung kemungkinan benar”
Imam Malik pernah pula menegur muridnya yang ingin menjadikan madzhab Maliki sebagai madzhab satu-satunya yang boleh berlaku di tengah masyarakat dan kitab Al Muwatho sebagai rujukan utamanya;
“Jika kamu lakukan itu (memaksa orang lain untuk mengikuti madzhab-ku) maka akan timbul fitnah dan kerusakan yang besar” demikian kurang lebih nasehat beliau.
Imam-imam Mazhab semisal Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman Dawud Adh Dhohiri, ataupun Zaid bin Ali bin Zaenal Abidin tak pernah memaksa murid-muridnya untuk menjadi pengikut madzhabnya. Mereka membebaskan murid-muridnya hingga kelak para murid tersebut bahkan mendirikan madzhab sendiri.
Dan betul sekali ucapan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi; jika dalam soal perbedaan agama saja kita disuruh untuk mengatakan kepada orang-orang kafir (yang notabene musuh kita):
لكم دينكم ولي دين
(Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku)
kenapa dalam persoalan ijtihadi kita tidak mengatakan kepada sesama muslim (yang notabene saudara):
لنا أعمالنا ولكم أعمالكم
(Bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian)
Kenapa sebagian kita begitu sulit mengatakan kalimat itu kepada sesama saudara yang diluar/keluar dari jama’ah (baca: organisasi/harokah) kita dan memilih jalan perjuangan yang berbeda?
Kenapa sebagian kita begitu susah mentolelir perbedaan sikap yang terjadi antara kita dengan saudara kita hanya karena beda wadah perjuangan?
Jawabannya hanya satu: karena hati sebagian kita telah dipenuhi borok kebencian dan nanah dendam kesumat tak berkesudahan atau telah membatu karena fanatisme golongan dan arogansi ke-aku-an.
Jika dalam soal ijtihad mereka (para ulama kita) begitu mudah bertoleransi, kenapa dalam soal beda sikap dan pilihan yang levelnya jauh dari ijtihad kita begitu kaku dan seringkali sok tahu?
Sekali jawabannya; karena hati yang kotor dan tak ada upaya untuk membersihkannya. Harus kita akui kita ini bukan mujtahid, kotor pula hati kita. Innalilahi wa innailaihi rojiun!
Suhari Abu Fatih
Pengasuh PPM Alfatih Klaten

