Sama-sama senang menyimak kajian Gus Baha’, tapi konklusi yang diterima sangat beragam antara satu dengan yang lain. Pertama, menunjukkan luasnya ilmu dan pemahaman sang muwajjih. Kedua, daya serap terhadap ilmu tentu berbeda dan pasti selalu mengandung pelajaran berharga. Semoga kecintaan terhadap ulama’ menjadi wasilah syafa’at cinta yang berujung di surga.
Dari guru yang sama KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, sedang KH Hasyim Asy’ari merintis jam’iyyah bernama Nahdhatul Ulama. Kedua ormas Islam tersebut tidak dipungkiri kontribusi besarnya bagi perjalanan Indonesia. Bahkan banyak organisasi dan lembaga yang lahir belakangan hakekatnya tidak lepas dari peran keberadaan dua organisasi tertua di Indonesia tersebut. Semua menjadi indah ketika saling melengkapi.
Menjadi bencana ketika dalam perbedaan kehilangan kearifan. Katanya penggemar kajian-kajian tasawuf tapi sengaja membuat sekat dengan orang yang kebetulan memilih perahu berbeda dalam mengayuh biduk perjuangan. Kenapa ada yang memilih horor sih? Sama-sama mengkaji Riyadhus Shalihin, mestinya memaknai hidup sebagai olah kebugaran hati, pikiran dan tindakan di taman-taman kebahagiaan.
Menelaah Al-Hikam yang sama karya monumental dari syekh Ibnu Athaillah As-Sakandary sejatinya hati semakin bening, cara pandang bertambah padang. Pendaran hikmah memancar benderang bagi kehidupan. Bila hati dililit kebencian, kecurigaan terhadap sesama itu tanda nyata rongsokan dunia yang menjijikkan telah memenuhi jiwa.
Mari ajukan pertanyaan sederhana pada diri dalam keteduhan nurani: Apa yang telah dikonsumsi hari ini? Halal dzatnya tidak cukup bagi kita yang masih berkenan sujud kepada Allah, sedang kening yang tersungkur merupakan darah dan daging yang bertumbuh dari makanan. Benarkah ia diperoleh dengan cara yang bersih? Bersih dari kepentingan yang dapat merabunkan mata pandang, saudara dianggap kendala karena tersandera kaum durjana.
Tuak yang memabukkan tidak lagi jelas mereknya. Sangat aneh ketika ada yang mabuk seusai sembahyang meski tak selalu nampak dengan tubuh sempoyongan. Sederhana membaca tanda mabuknya; menyekat jiwa dengan sesama yang menghamba kepada-Nya atau bersepakat dalam perkara dosa meski sengaja dibungkus dengan lembaran kitab suci yang sekedar dibaca tapi kehilangan makna.
Benar tidak ada yang makshum selain nabi-Nya. Dari ulama’ yang sama tidak mesti sama penerimaan terhadap petuah-petuah yang bertabur hikmah. Tetapi kita berlindung kepada Allah dari segolongan yang memilih jalan tepian
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٍ ۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ (الحج: ١١)
Sama beda. Dengan sudut pandang sederhana ala orang desa lebih memancarkan bahagia, dari pada menganut teori tarzan yang tidak paham bahasa manusia. Warna hijau bagi orang Madura adalah biru muda, tapi mereka rela menyebut bubur kacang ijo dan ngalah tidak memaksa untuk menyebutnya kacang biru muda.
Kalau masih bisa ceria dengan cara berbeda, kenapa mesti bertengkar untuk sama? Selama Tuhan kita sama, kitab suci yang sama, kiblat kita sama, biarlah sebagian naik pesawat sedang lainnya memilih kapal biasa. Sekali waktu luangkan untuk tertawa bersama kaum petani yang menikmati pematang sawah tanpa menyoal latar belakang, tanpa terhalang untuk selalu riang.
Anshor Hasan

