Ketika penjahat menasehati ulama

SAF (Pengasuh PPM Alfatih Klaten)

“Saya adalah Abu Haitsam yang hina. Pencuri dan pencopet. Perampok dan pemabok. Namaku tertulis di Diwan Khalifah agar aku dicambuk sebanyak delapan belas ribu kali. Aku bersabar ketika dicambuk, padahal aku berada di jalan setan maka bersabarlah engkau -wahai Ahmad- di jalan Ar Rahman”.

Kalimat itu diucapkan oleh teman satu sel imam Ahmad sesaat sebelum beliau dihukum cambuk.

Mendengar ucapan itu imam Ahmad tersentak sekaligus merasa malu; bagaimana bisa ia yang selama ini dikenal sebagai ulama dan imam Ahlussunah namun kalah sabar dengan seorang penjahat. Maka seketika itu beliau istifadah (mengambil faidah) dari nasehat si pencuri tersebut.

Sepulang dari Jurjan, Imam Ghozali dicegat oleh para perampok. Keranjang rumput yang beliau pakai untuk menyimpan barang-barang dirampas oleh mereka termasuk catatan-catatan beliau selama beliau belajar kepada gurunya, Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakany. Catatan-catatan itu beliau namakan At Ta’liqah dan Al Mudzakkirah.

“Kalian boleh mengambil semua barang milikku, namun kembalikan ta’liqat-ku” kata imam Ghozali.

“Apa ta’liqaat itu?” Tanya salah seorang perampok tersebut.

Buku-buku dan kertas-kertas yang ada di dalam keranjang tersebut. Aku meninggalkan rumahku sekian lama untuk menyimak dan mencatatnya hingga ia menjadi pengetahuanku” jawab imam Ghozali.

“Bagaimana kau mengaku catatan-catatan itu telah menjadi pengetahuanmu sedangkan ia tiba-tiba hilang ketika aku merampas bukumu ini dariku” sanggah si perampok sambil menyerahkan catatan-catatan tersebut kepada beliau.

Mendengar ucapan perampok itu, muka beliau seperti ditampar. Perasaan malu bercampur aduk memenuhi hati dan benak beliau. Sejak itulah beliau menghafalkan semua catatan yang beliau dapatkan dari gurunya tersebut.

Itulah cara Allah swt menyempurnakan pengajaran nya kepada para kekasih-Nya. Dia titipkan pengajaran itu bahkan lewat lisan para penjahat.

Dan itulah bedanya kita dengan mereka. Mereka bisa mengambil pelajaran yang amat berharga dari manusia-manusia yang hina sedangkan kita seringkali menyia-nyiakan mutiara dari lisan guru-guru yang mulia.

Hadanallahu wa iyyakum

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.