Kemenangan kaum santri

Taliban kembali sukses -dengan izin Allah- meruntuhkan kepongahan kaum penjajah, sang Paman Sam yang menasbihkan diri adidaya. Jauh dasawarsa Uni Soviet lebih dulu menanggung malu ketika simbol palu arit harus terkoyak pilu. Semoga sesuai namanya Taliban akan terus belajar memaknai kemenangan di tengah riuh dentuman fitnah yang bertubi merintangi. Kemenangan tidak boleh menjadi kenangan perjuangan, tapi kemenangan sejatinya merupakan perjuangan yang tidak akan rehat di kursi kekuasaan. Berjuang bersama kesetiaan kaum santri membangun negeri, bukan perebutan riak ambisi yang berporos kepentingan birahi.

Kemenangan Taliban adalah potret pembelaan Tuhan terhadap kaum santri di sudut-sudut negeri. Siaran ulang dari ceruk peristiwa yang seyogianya menggugah jiwa-jiwa dalam kesadaran menempa diri mengasah potensi. Futuhat Islam diprakarsai kaum yang setia kepada kitab suci. Hingga Indonesia yang menemui kemerdekaannya tidak terpisahkan dari jasa kaum santri. Kini pandemi menyasar generasi yang tak berdaya dalam penerimaan bangku sekolah yang harus sepi serta bangku kuliah yang sunyi. Tersisa suasana pesantren dengan “tiket” isolasi efektif untuk sehat jasmani sekaligus bugar ruhani. “Penjara suci” tanpa jeruji besi, tempat generasi melukis mimpi-mimpi. Inikah tanda fajar kebangkitan yang dirindukan akan menyingsing kembali?

Duhai kaum santri, sadarilah betapa Allah sedang memberi momentum bagi tersibaknya gerbang kemenangan masa depan. Jangan siakan untuk suatu peran bagi kejayaan! Menangkanlah jiwa sebelum menaklukkan amuk dunia. Fitnah zaman semakin menggurita tanpa lagi tersekat visa. Semakin bertambah para korban menderita dalam ceria. Mabuk dalam dusta tawa. Bersorak gembira sedang hakekatnya merancang nestapa. Kaum santri janganlah tergoda! Bersabar meski berhemat tawa. Air mata tak selamanya buliran derita.

Terbayang bagaimana besok fenomena keterpanaan orang-orang yang remuk jiwa menghadapi Al-Masihi Dajjal? Al-Masih dari kata masaha yang berarti mengusap. Mengusap bumi dengan pengembaraan mencari sebanyak-banyak manusia agar bertekuk lutut menghamba kepadanya. Dajjal satu matanya mamsuhah (buta), hingga berpandangan satu saja kepada dunia dan membutakan para pengikutnya kepada akhirat baka.

Sekarang baru zaman digital, belum tiba fitnah Dajjal, tapi terus bertambah para korban terkapar memperbudak diri dengan mengusap-ngusap digital. Inikah fitnah “al-masih” digital? Duhai kaum santri, jangan menjadi bagian dari mereka yang rela menggadaikan mental!! Masa emas mengasah hati dan akal untuk menjajal kemampuan yang setimpal akan melukis kesuksesan fenomenal. Berjuang meretas segala aral. Usaplah dengan doa-doa untuk kemenangan yang tidak akan kembali batal!!

Allahu Akbar.. Kaum santri merdeka dengan semangat berkobar untuk bunga-bunga obsesi kembali mekar. Panji-panji kejayaan dari lubuk keyakinan semakin menjulang tinggi berkibar. Kaum santri menyongsong indahnya peradaban dengan wajah berbinar-binar. Kilauan cahaya Islam ‘kan terus bersinar.

Anshor Hasan

Tinggalkan Komentar