$AF (pengasuh #ppm #alfatih)
Sejak awal isu Corona ini mendera dunia, saya sudah katakan kepada anda semua bahwa yang paling berbahaya dari serangan virus ini bukanlah pada pernafasan atau daya tahan tubuh, tapi pada fungsi otak dan daya kritis.
Banyak nalar tiba-tiba ambyar. Banyak cendekiawan ujug-ujug hilang kesadaran. Tidak sedikit ulama dan mubaligh tiba-tiba menjadi petugas penyuluh kesehatan. Bukan bicara tentang syariat dan akhirat, tapi sosialisasi protokol kesehatan layaknya petugas puskesmas.
Sudah setahun lebih, anak-anak tak jelas pendidikannya karena basis KBM daring bukan pengajaran tapi penugasan. Ujung-ujungnya yang mengerjakan tugas bukan peserta didik tapi orang tuanya. Lalu akurasi evaluasi dan penilaian akhir apa acuannya? Entahlah!
Jangankan berangkulan (mu’anaqoh) ketika bertemu, banyak orang masih enggan bersalaman ketika berjumpa. Ada kawan atau tetangga sakit, takut menjenguk karena khawatir sakit yang diderita adalah Corona.
Sekian banyak orang meninggal tak diurus dan dishalatkan layaknya jenzah seorang muslim yang memiliki enam hak atas muslim yang lain. Bahkan hendak takziyah-pun begitu ketakutan.
Shaf-shaf shalat jama’ah di sebagian masjid masih distancing karena taat dengan fatwa who. Seruan Nabi Saw untuk merapatkan dan meluruskan shaf terdengar sebagai dosa dan seolah-olah tindak kriminal hingga sebagian imam memilih bungkam lalu tiba-tiba takbiratul ihram begitu saja.
Saat kerja dan aktivitas selain ibadah kita bebas-bebas saja, tapi saat ibadah kita diatur-atur. Shaf distancing lah, pakai masker lah, bawa sajadah sendiri lah dan lain sebagainya. Tapi aneh bin ajaib, kita manut dengan fatwa tersebut.
Para penggagas pandemi ini tidak akan berhenti sampai disitu. Mereka akan terus berusaha menjauhkan Anda dari sunah Nabi dan Syari’at Islam.
Baru-baru ini mereka meluncurkan program Jum’atan virtual. Jumatan via zoom. Imam dan khatibnya di rumahnya, jama’ahnya bisa dari rumah atau tempat kerja masing-masing.
“Eh Dul, andai Jumat model begini sah dan diperbolehkan ngapain pula kamu jumatan sama mereka? Mending jumatan dengan imam dan khatib Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Toh jumatan di dua masjid paling mulia itupun disiarkan secara live”, kata saya kepada penanya.
Biarkan saja mereka dengan ide gila ini, kita doakan saja jumatan maya ini diganjar dengan pahala yang maya dan surga online yang bisa diunduh di play store.
Semua ini terjadi karena sebagian besar umat dan ulamanya menempatkan fatwa who setingkat sabda Nabi Saw.
Sejak kapan ada sakit tanpa gejala? Sakit hati alias kemunafikan saja kata Nabi Saw ada gejalanya; jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari dan jika diberi amanah ia bersikap khianat.
Selama anda menyakini ada penyakit tanpa gejala, selamanya anda akan dikendalikan oleh mereka. Bagai buih dilautan, tinggi menggunung namun tak ada kekuatan. Banyak jumlahnya tapi tak bisa mengendalikan. Itu kondisi umat Islam akhir zaman alias kondisi kita semua.
لا حول ولا قوة إلا بالله

